Senin, 03 Oktober 2011

Ini Wasiat, Adikku Sayang..

Adikku sayang, kau tahu? Ini bukan soal kematian. Bukan itu.

Ini juga bukan seperti apa yang sering kau ungkapkan. Atau apa yang sering kau tanyakan.
Ini soal masa depanmu. Tahukah kau adikku sayang, ingin sekali aku katakan bahwa dunia ini buruk. Segala tentangnya kadang menipu. Segala tentangnya membuatku sangat khawatir. Sangat khawatir, terutama engkau. Persoalannya adalah bagaimana kalau-kalau kita tidak sadar sedang ditipu dan malah asik menikmati tipuan itu. 

Tapi walau bagaimanapun dunia ini merupakan pelantara kita untuk bertemu Allah. Sabarlah. Semoga petunjuk Allah senantiasa menyertai kita.

Adikku sayang, sering kau bertanya “teh, mengapa teteh tidak mau panjang umur? Padahal semua orang sangat menginginkan itu.”

Sungguh teteh bingung, jauh dari pada itu teteh pun heran mengapa pertanyaan itu bisa ada dibenakmu. Benak seorang anak laki-laki 9 tahun yang begitu polos dan menikmati dunia. Kau bahkan jarang menangis kecuali jatuh dari sepeda atau di marahi oleh ibu.

Adikku sayang, tolong jangan tanyakan lagi pada teteh soal itu. Itu hanya akan membuat teteh merasa bersalah. Bersalah karna telah berlaku begitu pesimis akan hidup. Padahal hidup adalah kehendak Allah. Semoga Allah memaafkan bodohku.

Saat ini aku hanya ingin memikirkan soal masa depanmu.

Adikku sayang, tengatkan pesan ini baik-baik. Laksanakanlah! Karna aku tidak mungkin menunjukanmu pada hal yang buruk. Sungguh, aku sangat ingin kau lebih baik dari aku. Karna aku menyayangimu.

Pertama, jangan tinggalkan shalat. Laksanakanlah dengan ikhlas meskipun kau sedang dalam keadaan sempit. Kedua, jangan sekali-kali kau kejar dunia, karna dunia hanya akan menghinakanmu dan menjauhkanmu dari Allah. Tapi kejarlah akhirat, prioritaskan kehidupan akhirat maka dunia kelak akan ada di genggamannu. Jangan letakkan dunia dihatimu!!

Ketiga, jangan pernah berhenti belajar, jangan pernah berhenti menebar kebaikan, jangan pernah berhenti melakukan perubahan, jangan pernah berhenti mengingatkan pada kebaikan dan menghilangkan kemungkaran dari muka bumi ini. Dan JANGAN pernah sekali-kali kau menyakiti hati ibu dan ayah. Bahagiakanlah mereka, kalau-kalau aku tak sempat membahagiakan mereka.

Duhai adikku sayang. Besar harapanku, engkau akan menjadi cahaya di keluarga ini. Menjadi penerang dan menjadi syariat atas hidayah Allah untuk keluarga kita. Kalau-kalau aku tak ada umur untuk menjalankan itu, maka aku mohon dengan sangat adikku sayang, laksanakanlah!! Tolong kabulkan harapanku.

Ku doakan selalu. Semoga Allah memberi keberkahan pada usiamu. Memberi kekuatan padamu dalam menopang segala ujian dan cabaran. Menberkahi ilmumu. Menyayangimu. Menjagamu dari hal-hal yang buruk yang dapat menyesatkanmu. Mempertemukanmu, aku dan keluarga kita di syurga kelak.

Ingat adikku, Allah begitu baik. Allah Maha Tahu yang terbaik bagi kita. Apapun scenario Allah, itu semata-mata adalah karna Allah sayang kita.

Maafkanlah kakakmu ini. Kakak yang belum seutuhnya menjadi kakak. Kakak yang belum bisa menjadi tauladan bagimu. Maafkanlah kakak.

Adikku sayang, kaulah harapanku..
Bawalah keluarga kita pada cahaya kebenaran..
Akan aku tunggu..
Untuk berkumpul kembali..

Rumah kita, 03 September 2011 22:58
Kakakmu
Vissiana Rizky Sutarmin

Jumat, 30 September 2011

Excellent Preacher, Cerdas Spiritual Cerdas Sosial


Agar Tidak Jatuh Kemudian
Oleh: Vissiana Rizky Sutarmin


“Nahnu du’at qobla kully syai’in”
Sebagai seorang insan akademika yang bergelut di dunia dakwah dan komunikasi, tentu kita sudah tidak asing lagi dengan ungkapan diatas. Ya, kita adalah Da’i sebelum menjadi apapun. Sebagai seorang manusia, kita tidak bisa mengelak dari tugas dakwah dan berdalih bahwa dakwah hanyalah pekerjaan Kyai, Syekh ataupun Ustadz. Sebaliknya, kita harus bisa menyadari, menerima serta melaksanakaan tugas mulia itu dengan baik dan amanah.
Menurut Dudy Imadudin Effendy, M.Ag[1], seorang da’i bukan hanya seorang yang “ahli” agama, berdiri memberikan khutbah dibalik mimbar ataupun seseorang yang berpakaian khas muslim ala Aa Gym atau Ustadz Maulana. Jauh lebih urgent dari itu, adalah niat yang semata-mata hanya karna Allah. Sehingga, baik itu seorang dokter, guru, mahasiswa ataupun pedagang kaki lima, jika tujuannya menebarkan kebaikan dan manfaat semata-mata hanya karna Allah, maka merekapun layak disebut seorang Da’i.
Menjadi seorang da’i tidaklah mudah, akan banyak rintangan dan cabaran yang menghadang. Itu semua merupakan proses khas dari dakwah itu sendiri agar kemudian dapat terlihat, siapa yang sungguh-sungguh berdakwah dan siapa yang lemah, tidak mampu bertahan bahkan hilang dari kancah pertarungan. Lalu, bagaimana agar seorang da’i bisa melalui proses seleksi alam tanpa tereliminasi serta tetap kokoh istiqomah dijalan dakwah?
Agar Tidak Jatuh Kemudian: Kenali Penyebab-penyebab Tasaquth[2]
“Kebaikan yang tidak terencana, akan terkalahkan oleh kejahatan yang terencana.” Ungkapan ini mungkin sudah terlalu sering masuk kedalam telinga kita, namun jarang dari kita benar-benar mengamalkan pelajaran yang bisa diambil dari ungkapan tersebut. Dalam kancah dakwah, seorang da’i haruslah merencanakan langkah- langkah strategis serta amunisi-amunisi penting untuk bertahan dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang  akan melemahkan kita dijalan dakwah . Salah satunya adalah dengan mengenali penyebab-penyebab tasaquth.
Dengan mengenali apa-apa saja yang dapat membuat kita terjatuh dari kancah dakwah, diharapkan kita bisa lebih siap dalam menghadapi ujian tersebut. Dengan kesiapan menghadapi ujian yang menghadang, tentunya seorang da’i akan lebih kuat dan tidak begitu saja gugur dalam dakwah.
Fathi Yakan dalam bukunya “Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah”, membagi penyebab tasaquth dalam tiga sumber. Pertama, penyebab tasaquth yang bersumber dari pergerakan, penyebab tasaquth yang bersumber dari individu dan penyebab tasaquth yang bersumber dari luar (eksternal).
Penyebab tasaquth yang bersumber dari individu dapat dikatakan sebagai sumber paling besar yang menyebabkan gugurnya para da’i dari kancah dakwah. Adapun sebagian dari penyebab tasaquth yang berasal dari individu tersebut adalah watak seorang da’i yang indisipliner dimana seorang da’i tidak memiliki kesiapan untuk memikul beban-beban structural, tidak mampu mengatur kehidupannya dan tidak mampu berorganisasi. Sebab-sebab individu lainnya yakni seorang da’i takut pada kematian dan kemiskinan, bersikap terlalu ekstrem dan berlebihan sehingga tidak menerima sikap moderat dan membebani diri melebihi kemampuan, sikap mempermudah dan menganggap enteng, ghurur[3] dan senang tampil, cemburu terhadap orang lain yang notabene berlari lebih cepat dan lain-lain.
Selanjutnya penyebab tasaquth yang bersumber dari luar (eksternal). Sebab-sebab eksternal merupakan salah satu factor penyebab bergugurannya sebagian da’i di jalan dakwah. Secara umum, sebab-sebab tersebut diantaranya adalah tekanan tribulasi yakni penyiksaan fisik, tekanan keluarga, tekanan lingkungan yang memberi pengaruh negative lebih banyak, tekanan dari figuritas dan sebagainya.
Adapun sebab-sebab yang bersumber dari pergerakan diantaranya, lemahnya aspek tarbiyah sehingga pribadi da’i menjadi kering dan sepi dari kehidupan Robbani serta kesegaran ruhani. Selanjutnya yakni tidak proporsionalnya pergerakan dalam memposisikan anggota, lemah dalam kontrol, kurang sigap dalam mnyelesaikan persoalan, konflik internal, pemimpin yang lemah dan masih banyak lagi.
Kita adalah Milik Masyarakat, Be Strong!
Menjadi seorang da’i pasti akan dibenturkan dengan kehidupan masyarakat. Tentunya kita tahu bahwa ketika kita terjun kedalam mayarakat, kita akan menemui keragaman dan perbedaan yang terkadang menjadi masalah kalau-kalau kita tidak cerdas menghadapinya. Dengan mengenal sebab-sebab tasaquth, kita sebagai da’i hendaknya lebih mempersiapkan daya imunitas kita, bukan malah mundur dan gugur sebelum bertarung.
Adalah sosok-sosok da’i yang kuatlah yang dibutuhkan umat ini. Dengan dibenturkannya seorang dai dalam kehidupan masyarakat, menuntut da’i agar lebih kuat dalam mengarungi arus deras kehidupan, ombak dahsyat perbedaan, angin kencang penolakan dan cerdas mengembangkan metode dakwah agar sesuai dengan kondisi, karakter serta kebutuhan masyarakat. Maka dari itu , be strong! Yakinlah, bahwa sesungguhnya peluh, lelah, air mata dan darah tidak akan luput dari penilaian Allah SWT.
Jangan lupakan Ruhiyah!
Seorang da’i yang excellent, selain harus cerdas secara sosial sehingga tidak ibadah oriented dan memiliki moral yang dapat menjadi teladan serta membuat mad’u nyaman menerima pesan dakwah, hendaknya juga dapat memberikan porsi serius dalam aspek ruhiyah.
Sebagai seorang da’i, kita harus pula memperhatikan kecerdasan spiritual dengan terus membasahi ruhiyah dan tarbawiyah kita dengan dzikir kepada Allah. Jangan sampai seorang da’i rapuh imannya, hampa jiwa dan ruhaninya sehingga pribadi da’i menjadi kering dan sepi dari kehidupan Robbani serta kesegaran ruhani. Ini tentu akan berpengaruh pada proses dakwah itu sendiri. Da’i yang kering rohaninya mungkin akan tetap didengar oleh mad’u. Namun, apakah dengan hati yang kering kita dapat menyentuh hati mad’u kita? Hingga pada akhirnya, pesan dakwah hanya sekedar masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Naudzubillah.
Semoga kita sebagai da’i dapat lebih siap dan kuat menghadapi ujian di jalan dakwah ini. Karna berjuang di jalan dakwah ibarat berjalan di tanjakan, dimana syeitan akan terus berusaha menarik tubuh kita agar tergelincir dan jatuh terperosok. Semoga kita dapat menjadi da’i yang excellent, yang memiliki kecerdasan spiritual serta kecerdasan sosial dan tetap istiqomah berjuang dalam dakwah.
Wallahu’alam bishowab..


[1] Dosen Mata Kuliah Psikologi Da’i di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam
[2] Berguguran dijalan dakwah
[3] Tertipu oleh diri sendiri

Tuhan, Aku Bingung




Aku sering mendengar tagline ini, “Don’t judge book by cover”. Sering sekali, saat diskusi, debat atau sekedar ngobrol ringan dengan teman. Kita tidak boleh menilai sesuatu hanya dari tampilannya saja, isi seyogyanya lebih penting. Tapi aku bingung, apakah yang berpenampilan baik pasti baik pula hatinya? Apakah yang berpenampilan buruk, buruk pula hatinya? Apakah yang berpenampilan baik bisa jadi buruk hatinya? Atau yang berpenampilan buruk bisa saja baik hatinya?
Sempat aku menemui orang-orang yang begitu luar biasa. Segala tentangnya aku salutkan. Kecerdasannya, kesungguhannya belajar, penampilannya yang baik, tutur katanya yang santun, kesabarannya mengarungi ujian, ketabahannya menerima segala kekurangan dll. Tapi, setelah dua tahun aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Ya, sisi gelap. Wajar memang, menurut ku orang ini tidak salah. Karna sepertinya memang sudah jadi tabiat manusia untuk menutupi segala kekurangan dan menonjolkan kelebihan. Manusiawi sekali.
In other side, aku menemui orang yang tampilannya sangat berantakan, apa adanya, tidak dibuat-buat, bertingkah biasa saja. Tapi setelah beberapa lama sosoknya membuat aku malu. Ide-idenya ternyata brilian, kebaikannya pada sesama begitu luar biasa, mampu melakukan perbaikan pada sisi-sisi yang di lupakan para  “pejuang” yang mengaku ingin melakukan perubahan, dll.
Mungkin disini letak keluarbiasaannya, meski aku bingung tapi aku yakini ini semua bukan tanpa hikmah. Memang selalu ada kejutan-kejutan dari Tuhan untuk menguji kita. Terkadang sesuatu diluar “teks” membenturkan kita pada realitas. Sama halnya seperti “mengapa terjadi, kedua orangtuanya shaleh tapi anaknya salah?” atau “ko bisa ya, orang tuanya hidup di dunia penuh kegelapan tapi anaknya shaleh?”. Padahal baik secara teologis maupun rasional hal itu mungkin aneh. 
Tapi itulah seninya. Tuhan mengajarkan kita untuk bijak. Bahwa apa yang mungkin akan dihadapi sangat jauh berbeda dengan apa yang diujar oleh “teks”.  Sungguh, hanya Tuhan yang Maha Tahu isi hati setiap hamba-Nya. Semoga kita tidak terjebak pada prasangka buruk dan salah menilai. Semoga kita bisa bijak menghadapi apapun kemungkinan yang terjadi sehingga tidak adalagi saling menyalahkan oranglain dan membenarkan diri sendiri.
Tuhan, beritahu aku mana yang benar-benar baik. Izinkan aku menjadi temannya. Meski aku sendiri pun tak tahu diri ini benar atau tidak. Tuhan, setiap insan Kau anugerahkan lebih dan kurang. Begitupun aku. Aku tidak akan menjudge seseorang yang punya sisi gelap. Karna bisa jadi (pasti) akupun memilikinya. Hanya jujur, aku tidak suka orang yang berpura-pura benar, membagus-baguskan diri, berbeda antara kenyataan dengan hati. Tolong jangan pertemukan aku dengan orang yang seperti itu. Dan aku berlindung atas segala kemunafikan, berlindung atas segala kesalahan persepsi, berlindung atas kebingungan yang membuat ku berpikir agak “radikal” malam ini. Tuhan, aku berlindung pada-Mu. Meski aku mungkin belum benar :(

"Wahai sekalian orang yang beriman, jauhilah olehmu banyak prasangka, karena sebagian besar sangka-sangka adalah dosa, dan jangan kamu meng­intip-intip, dan jangan mengumpat (gunjing) setengah terhadap yang lain. Sukakah kamu memakan daging saudaramu yang telah mati, niscaya kamu jijik terhadapnya. Dan takwalah kepada Allah. Sesungguhnya Tuhan Allah adalah pemberi taubat dan amat kasih-sayang. " (al-Hujurat: 12)

“…Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (Asy-Syuro: 24)

Wallahu’alam..


Cibiru, 30 September 2011 23:38
Vissiana Rizky Sutarmin

Jumat, 23 September 2011

Duhai Sahabat Kata Hati..


Duhai sahabat kata hati. Sering, sampai berkali-kali aku tuli. Berpura-pura tuli lebih tepatnya. Serta berpura-pura buta pula. Entah berkali-kali itu berapa kali. Seingatku ini sudah yang ke-delapan kalinya, atau mungkin lebih karna banyak yang luput dari hitungan. Kau (sahabat kata hatiku), sering ku hiraukan. Bahkan tak jarang aku lebih pilih membangkang daripada sejenak mendengarkan celotehmu. Meski akhirnya masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

Duhai sahabat kata hatiku. Yang sabar menerangi sudut gelap kehidupanku. Kini cahayamu tinggal lima watt. Tapi melihat keadaanmu itu aku yang pandir ini tak jua mau berhenti dari kecepatan tinggi sang kaki berlari. Padahal aku tahu, cahayamu kian redup itu semata-mata karna aku tak mau juga mendengar. Aku sadar bahwa keakuanku mendengar dan mempertimbangkan celotehmu adalah sumber kekuatan cahaya itu. Tapi itu tadi, dulu aku pandir. Sekarang?

Duhai sahabat kata hati. Yang Tuhan Maha Kasih anugerahkan bagiku, hamba-Nya yang bodoh ini. Yang dihadirkan guna menjadi Pak Pos pengantar pesan-pesan Tuhan. Aku biarkan surat-surat itu dipenuhi debu. Aku biarkan surat-surat itu dimakan rayap. Aku biarkan, tak ku hiraukan.

Duhai sahabat kata hati. Hingga sampai waktunya, engkau tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk membangunkanku dari tidur panjang ini. Padahal segala teguran atas nista ini telah nyata. Patah tulang, lebam-lebam, luka-luka yang berdarah, goresan-goresan dari kerikil aspal yang tengah dipanggang terik matahari, baju yang koyak dan vonis dokter yang sok tahu, dan mungkin banyak lagi. Engkau akhirnya memilih untuk pergi, meski kau rasa berat. Karna aku tahu kau sayang akan aku, selalu ingin aku berada di jalan yang semestinya.

Duhai sahabat kata hati. Aku menyesal selama ini telah mengabaikanmu. Namun, aku bersyukur. Di detik-detik menjelang “kepergianmu” aku masih kuasa berlari untuk mencegah. Karna jika aku terlambat sedikit saja saat itu, aku pasti akan mati. Ya, mati. Kematian. Ragaku mungkin hidup, tapi tak akan ada makna, tak ada cinta, tersesat. Karna yang mati lebih dari sekedar raga.

Duhai sahabat kata hati. Please maafkan aku. Kumohon jangan pernah tersirat dalam pikiranmu untuk pergi tinggalkanku. Sungguh, kehadiranmu adalah kesyukuran terbesar dalam hidupku. Allah begitu baik berikan kesempatan ini (lagi) pada hamba senista aku.

Duhai sahabat kata hati. Tak ingin lagi aku berpura-pura tuli dan buta. Mulai sekarang, akan ku buka mata dan telingaku lebar-lebar. Tak mau lagi aku hiraukan suaramu. Aku takut “mati”, aku takut Ia tak sayang lagi padaku. Akan kudengar, akan ku timbangkan, aku janji!!

Duhai sahabat kata hati. Terimakasih atas kasih dan sabarmu atas aku. Aku tetap harus berbenah diri dan berhati-hati. Karna rupanya ada kembaranmu. Yang suka menipu, menggoda dan meniupkan rasa was-was di atas ubun-ubun manusia. Aku tak kuasa membedakannya. Maka dari itu aku berlindung pada Allah, Tuhannya manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan setan yang sembunyi. Yang membisikan kejahatan kedalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.

Terimakasih Duhai sahabat kata hati..

Petak 3 kali 3, pukul 10.56
Vissiana Rizky Sutarmin
Sahabatmu

Selasa, 09 Agustus 2011

Silaturahmi..

“Wat taqullâhal ladzîna tasâalûna bihî wal arhâm.”
Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu saling memohon dan peliharalah silaturahim.”(QS. An-Nisa 1)

Hampir semua orang akrab dengan kata “Silaturahmi”. Hal ini bisa dilihat dari seringnya kita menemukan penggunaaan kata silaturahmi pada setiap kesempatan, misalnya saat hari raya, reunian, atau sekedar komunikasi lewat sms, telfon dan dunia cyber.  Silaturahmi sering dikenal sebagai upaya memelihara hubungan baik, entah itu dengan keluarga, tetangga, atau teman.  Adapun silaturahmi menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah menyambung tali persahabatan atau persaudaraan. Terlepas dari hal tersebut, pernahkan kita sejenak merenungkan hakikat utuh dari silaturahmi?
Al-Qur’an secara special memposisikan perintah silaturahmi setelah perintah taqwa. Hal ini mengindikasikan bahwasanya silaturahmi mempunyai posisi urgen dalam kehidupan. Mengapa demikian? Karna silaturahmi merupakan ibadah yang sangat mulia, mudah dikerjakan dan membawa berkah. Kita sebagai kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakan silaturahmi, melainkan meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini. Terlebih dengan fasilitas transportasi dan komunikasi yang kian mudah.

Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi). (Shahih Muslim No.4638)
Begitu besarnya makna silaturahmi dalam Islam, sehingga Allah SWT memberikan dua buah kebaikan bagi pelaku silaturahmi, yakni dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya. Silaturahmi merupakan akhlak yang mulia dan diserukan oleh Islam. Bahkan bagi orang yang memutuskan silaturahmi Allah SWT memperingatkannya dengan laknat dan azab, diantara firman-Nya:

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad 47:22-23).

Bahkan dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Muhammad Baqir ra pernah mendapat wasiat dari ayahnya (Imam Zainul Abidin, ra). Ia (kata Baqir) telah berwasiat kepadaku, “Janganlah duduk bersama lima jenis manusia. Jangan berbicara kepada mereka, bahkan jangan berjalan bersama mereka, meskipun tidak disengaja. Pertama, Orang Fasik. Karena ia akan menjualmu hanya untuk sesuap makanan. Kedua, Orang Bakhil. Karena ia akan memutuskan hubungan di saat kita kita memerlukan. Ketiga, Pembohong. Karena ia akan menipumu. Karena ia akan senantiasa menipumu. Keempat, Orang Bodoh. Karena ia berkeinginan memberikan manfaat bagimu, namun karena kebodohannya, ia jutru merugikanmu. Kelima, Orang yang memutuskan tali silaturahmi. Karenanya, janganlah berdekatan dengannya.

Betapa nyata laknat dan azab Allah bagi hamba-hamba-Nya yang memutuskan tali silaturahmi sehingga kita sebagai kaum muslimin hendaknya dapat memaksimalkan usaha kita untuk menguatkan tali silaturahmi. Banyak cara yang dapat kita lakukan misalnya, dengan berkunjung kerumah saudara-saudara kita, membuat pertemuan, atau sekedar menghubunginya lewat ponsel atau media cyber sekaliber Facebook, MySpace, Twitter dll.

Berbagai kemudahan transportasi dan komunikasi tentu akan lebih memaksimalkan upaya kita dalam mengukuhkan tali silaturahmi, terlebih dengan bermunculannya media komunikasi yang kian waktu kian canggih. Hal inilah yang perlu kita garis bawahi, bahwasanya kemajuan teknologi ibarat sebuah pisau, alias tergantung siapa yang menggunakannya.

Ditangan orang baik, pisau mungkin akan digunakan untuk memotong sayuran (memasak). Namun ditangan orang yang tidak bertanggung jawab, pisau tersebut mungkin akan digunakan untuk melukai atau bahkan membunuh seseorang. Pilihan kini ada ditangan kita, apakah kita akan memanfaatkan teknologi untuk kebaikan, dalam hal ini untuk memaksimalkan silaturahmi atau justru sebaliknya?

Memanfaatkan ponsel, facebook, twitter dan segudang fasilitas lainnya merupakan hal yang positif, apalagi jika dimanfaatkan untuk menguatkan hubungan pertemanan dan persaudaraan. Namun jika tidak berhati-hati, pengunaan teknologi yang ada justru akan mengakibatkan hal negative terjadi. Maka, kenalilah batasan-batasan dalam berinteraksi dengan teknologi, terlebih dunia cyber.

Sebagai contoh, baru-baru ini The Daily Mail menyebutkan, bahwa seseorang yang kecanduan jejaring sosial seperti facebook, myspace dll dapat membahayakan kesehatan dan cenderung membuat si penggunanya suka mengisolasikan diri. Hal ini tentu bukanlah efek yang baik karna dapat menimbulkan keringanya sebuah hubungan pertemanan atau persaudaraan. Para individunya tidak lagi mengahadiri pertemuan, social gathering dan lebih memilih berlama-lama dengan computer atau ponselnya.

Dengan demikian, kita dituntut lebih selektif dan berhati-hati dengan penggunaan jejaring sosial. Pertemuan langsung dan diskusi bersama nampaknya masih merupakan cara terbaik untuk menguatkan tali silaturahmi. Meski kadang sulit dilakukan karna kesibukan yang kian padat. Namun, kita tentu berharap termasuk kedalam orang yang dapat melaksanakan silaturahmi dengan baik dan menggunakan segala fasilitas yang ada dengan bijak. Sehingga, hal-hal yang tidak diharapkanpun dapat dihindari.

Wallahu’alam bishowab 

Rancamanyar, 09 Agustus 2011 01.14
Vissiana Rizky Sutarmin