Bulan
ini memang sok sibuk. Semua berkolaborasi jadi satu, bersekutu menyerbu. Memang
bukanlah hal yang tabu, meski diri tetap tak mau tahu. Ya, inilah Desember dua
ribu sepuluh. Ingin aku tumpahkan semua agar kelak suatu saat tak lagi merasa
the javu.
Kalian
tahu? Ujian Akhir Semester, klasik. Namun konspirasinya yang mengajak serta
semua duka membuatnya menjadi relatif, tak lagi klasik. Lima hari pula dari
sebulan itu, ditangisi terus. Disesali pula, padahal belum dihadapi. Bukankah
penyesalan itu datang belakangan? Ah, mungkin ini uniknya Desember dua ribu
sepuluh.
Ditangisi?
Sudah. Disesali? Sudah. Kini giliran menghadapi. Tak sama sekali ada cahaya wajah
menyambut lima hari yang bertempat di Kiara Payung itu, yang ada hanyalah besarnya
asa untuk segera pulang. Padahal banyak cahaya ditebar massa itu, tentu pula dengan
cabaran sebagai pemanisnya.
Alhamdulillah,
begitu baiknya Allah. Kurang dari 1 km saja sudah tercipta banyak lebam
dibadan, plus cairan warna merah di telapak tangan kiri. Hmm, manisnya rasa
sakit saat itu. Membuat semua alang hilang terbang. Tepat setelah jatuh itu
lah, semua rasa sedih, malas, dan sesal angkat kaki dari dalam jiwa.
Bahagianya, karena semua hal positif akhirnya datang.
Sungguh,
sampai detik ini tak pernah ada sesal seincipun telah melalui Desember dua ribu
sepuluh. Meski tak dipungkiri, diri yang pandir begitu senang menjustifikasi
duri. Padahal hakikatnya membumbui. Ujian Akhir Semester, tugas menumpuk, QLT
2, hantaman 80 km/jam yang ke-5, Computerized Axial Tomography, pertanggungjawaban.
Semua menjadikan Desember dua ribu sepuluh begitu syahdu.
Tapi,
ingin sekali mengakui bahwa ada satu hal lagi yang membuat Desember dua ribu
sepuluh penuh makna. Lima hari yang luar biasa di Kiara Payung? Ya memang, namun
ada hal lain. Hal itu adalah manakala skenario Allah, menjadikannya kuat untuk
menampakkan diri menebar cahaya. Inspiratif, mengajarkan bahwa sakit bukanlah
halangan untuk berjuang dan menebar kebaikan.
Diberi
nama awan biru, sebut saja begitu.
Meski sampai detik ini tak mengerti, tapi biarlah. Bukankah mengambil hikmah
itu adalah tugas akhir? Kita sama-sama tahu, awan biru itu teduh. Tak pernah nampak amarah. Awan biru, membuat kita belajar menghadapi hidup dengan penuh
cerah. Tak ada muram durja, tak ada pesimis.
Belum
sempat mengenal awan biru, ia jauh
diatas sedang kita hanya memandang keindahannya dari tanah. Awan biru, bertemu untuk yang pertama.
Semoga bukan yang terakhir, mengingat sampai detik ini awan biru entah dimana rimbanya.
Alhamdulillah,
benar kan? Skenario Allah adalah yang terbaik dan terindah. Apapun cabaran yang
kau hadapi, percayalah bahwa semua adalah karena cinta. Ya, cinta Allah pada
hamba-Nya. Percayalah..
Duhai Maha
Cinta, ini adalah awan biru Desember
dua ribu sepuluh.
Kini dua ribu
dua belas, belum terlihat lagi.
Cibiru, 01 Maret
2012 23:29
Vissiana Rizky
Sutarmin
* seluruh gambar dalam blog ini di dapat dari berbagai situs
Sempat
berfikir, mengapa saudara-saudara saya lebih memilih berpanas-panasan kejalan
untuk meminta bantuan. Mengapa mereka tidak mendatangi intansi terkait yang
dapat membantu mereka mewujudkan asanya, “Membangun mesjid atau pesantren”.
Sempat
juga merasa malu, melihat saudara-saudara saya mempertaruhkan harga dirinya
demi selembar uang lusuh Kapitan Patimura. Atau logam berkarat berlambang
pancasila. Mengapa mereka mempermalukan agama mereka dengan memelas dijalan? Mengapa
mereka tidak meminta “Orang-orang atas” untuk meringankan beban mereka.
Sungguh,
tak pernah saya sangka bahwa jawaban atas keheranan, kebingungan dan tanda
tanya dalam fikiran saya akan terjawab secepat ini. Allah begitu baik, dengan
tidak membiarkan saya terlalu lama dalam jelaga suudzon pada saudara saya
sendiri.
Saudaraku,
terlalu dini memang. Namun, kini saya dapat mengerti. Mengapa kalian lebih
memilih cara radikal dengan meminta-minta dijalan dibanding mengajukan proposal
bantuan pada Kementerian atau lembaga terkait. Mungkin inilah satu dari sekian
banyak alasannya.
Sungguh
saya bersyukur atas luka yang telah ditorehkan para Pejabat Kementerian “X”
kepada saya. Karena dengan itulah saya menangis, mengingat dosa-dosa yang luput
dari taubat, mengingat kedzoliman saya pada saudara saya dan membuat saya
semakin yakin, bahwa dakwah bukanlah jalan bertabur bunga.
Saudaraku,
ternyata sulit ya menemui orang-orang Islam yang dapat menerima saya. Padahal
saya adalah saudara mereka semuslim, dan mereka pun adalah saudara saya
semuslim. Tak pernah saya kira, bahwa prinsip “Antara muslim yang satu dengan
yang lain itu bersaudara” telah lama dimuseumkan. Tak pernah saya duga, bahwa
senyum saudara saya di Kementerian akan semahal ini.
Saudaraku
yang turun kejalan, maaf atas jelaga yang telah saya ukir dalam kanvas
kehidupan yang amat singkat ini. Maaf atas segala prasangka buruk yang pernah
terlintas dalam fikiran saya. Maaf saya pernah berkesimpulan bahwa tindakan
kalian meminta-minta dijalan dengan label “Pembangunan Mesjid” itu sangat
memalukan Islam.
Saya
mengerti, terlalu dini untuk menyimpulkan ini semua mengingat banyak sekali
aspek yang perlu sama-sama kita kaji, agar kemudian tak lagi ada prasangka diantara
kita. Namun, biarlah kekecewaan pada “orang-orang atas” ini menjadi penawar
agar kemudian saya bisa lebih memahami saudara-saudara saya yang dengan speaker
diatas mobilnya menyerukan “Bapak-bapak ibu-ibu yang baik hati, mohon bantuan
bagi pembangunan bla..bla..bla..” Biarlah wajah pahit Kementerian membuat saya
lebih menghormati saudara-saudara saya yang mengarak kotak amal kejalanan.
Saudaraku
yang berpeluh-peluh dijalan, semoga Allah senantiasa memelihara hati kita dari
penyakit dan senantiasa membimbing hati kita agar senantiasa sibuk karena
Allah. Semoga kita semua dilindungi dari niat jahat nan pandir. Semoga Allah
mengampuni kita atas jalan yang mungkin tersalah. Semoga Allah senantiasa
meridhoi langkah kita.
Dan,
untuk saudara-saudaraku para pengabdi negara yang menghabiskan waktu kerja
dikantin, untuk para pengemban amanat rakyat yang duduk santai dengan kepulan
asap dimeja kerja, untuk para pejabat yang lupa bahwa mereka adalah makhluk
lemah, untuk para pegawai negara yang kesulitan ramah melayani rakyat. Semoga
hidayah dan inayah-Nya senantiasa menaungi kalian. Terimakasih atas pengalaman
yang amat berharga ini. Terimakasih telah melempar saya dan mungkin
saudara-saudara saya yang lain bak bola pingpong. Terimakasih atas penerimaan
kalian yang begitu mengesankan.
Ingin
kembali saya tekankan bahwa mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan ini semua.
Namun, biarlah ini menjadi catatan kehidupan saya. Biarlah ini menjadi
pengingat untuk saya dimasa depan, bahwa saya pernah menjadi rakyat kecil yang
diperlakukan “istimewa” oleh para pejabat negara. Biarlah ini menjadi bukti,
bahwa kedzoliman pada rakyat kecil yang sering digembar-gemborkan di TV pernah
saya alami sendiri.
Alhamdulillah,
Maha Besar Allah yang senantiasa menyayangi hamba-Nya dengan cara-Nya yang tak
terduga. Maha Besar Allah yang senantiasa menurunkan hikmah agar hamba-Nya
bersyukur dan berfikir.
Hujan
diluar begitu deras Kay, petirnya pun membuat jiwaku tak tenang. Kau ada
dimana? Berminggu-minggu, sampai sebulan kau menghilang entah kemana. Sudah
kucari, sampai ke jembatan awan tempat kau biasa menyendiri, tapi kau tidak ada
disana.
Aku
tak bisa tidur Kay, terlebih suara hujan dan petir yang tidak jua usai. Jiwaku
berdebar, tak tenang. Pikiranku mengawang-ngawang, terbayang telah terjadi sesuatu
yang buruk terhadapmu. Tidak , jangan! Jangan sampai apa yang aku bayangkan
terjadi.
“Ka..
buka pintunya..!!”
Aku
tersadar dari lamunanku. Siapa yang bertamu malam-malam ditengah hujan deras?
Tanpa pikir panjang aku bukakan pintu. Betapa terkejutnya aku, Kay ada
dihadapanku dengan wajah lusuh, basah kuyup.
“Kay..
kemana saja kau? Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Mengapa kau menangis?
Ada apa?”
Tapi
seperti yang aku duga, Kay tak berkata sepatah katapun. Kay hanya duduk di
kursi sambil gemetaran, tatapan matanya kosong. Aku siapkan secangkir susu
coklat panas dan sepotong kue coklat, ini kesukaannya. Aku simpan dimeja, aku
minta Kay segera meminumnya selagi panas.
Melihatnya,
akupun jadi ikut terdiam. Aku jadi tak kuasa untuk menginterogasinya, meminta
penjelasan mengapa dia menghilang selama ini. Tangan Kay tetap gemetaran,
mungkin karena seluruh pakaiannya lusuh. Kay menolak waktu ku sodorkan baju
kering untuk menggantikan baju basahnya.
Kay
meraih secangkir susu coklat lalu meminumnya, tapi setelah itu dia menangis,
dan tangisannya semakin kencang. Ada apa Kay? Beban apa lagi yang harus kau
tanggung hingga kau selara ini.
“Ka,
selama ini aku pergi karna aku sedang ingin sendiri. Tapi selain itu, aku juga
pergi adalah untuk diam-diam membuntuti segala aktivitas dia. Tahukah kau ka, kasihan dia.
Dia begitu lemah dan mudah sekali pingsan ketika sedikit saja kelelahan.
Menurut kabar, ada rasa sakit yang amat sangat di bagian perutnya.”
Kay
terdiam, lalu kembali bicara. Aku tak akan memotongnya, akan aku dengarkan
sungguh-sungguh. Aku tahu, jarang sekali dia dapat berbicara banyak.
“Dia baik ka, shaleh dan sangat cerdas. Dia layak mendapatkan hidup yang lebih
lama. Dia layak mewujudkan segala
impiannya. Ka, seandainya Allah mengijinkan, ingin sekali aku dapat
membantunya. Aku ingin dia sehat. Aku
tak mau lagi melihatnya mondar-mandir ke rumah sakit.”
“Aku
tak mengerti Kay, apa maksudmu? Siapa itu dia?”
tanyaku.
“Kau
begitu baik ka, sangat baik. Selama ini aku memang menyembunyikan sesuatu
darimu. Aku tak ingin kau tahu karena aku tak mau kau mengasihaniku.”
Kay,
teka-teki apa lagi yang akan kau tumpahkan ke otakku. Mengapa kau serumit ini.
Selama ini aku kira aku adalah orang yang berhasil memecahkan makna diammu.
Tapi ternyata masih ada, atau lebih tepatnya masih banyak yang belum aku
fahami. Masih banyak yang kau sembunyikan.
“Ka,
sebetulnya selama ini aku sakit. Aku mungkin tak akan bisa sembuh lagi. Aku
tahu, Dokter Agusta memang sok tahu dan
cerewet. Dia bilang aku harus lebih menjaga diri dan memanfaatkan waktu dengan
baik. Aku mungkin saja bisa sembuh, tapi aku tak mau membuat keluargaku sengsara
dengan biaya yang begitu mahal.”
Kau
tahu Kay, aku begitu marah. Marah pada diriku sendiri. Mengapa aku begitu
bodoh. Seharusnya aku tahu ini sejak awal. Seharusnya aku mencurigai obat
penahan rasa sakit yang kau bawa kemanapun itu. Seharusnya aku bertanya-tanya
mengapa kau sering terjatuh tiba-tiba. Seharusnya, mengapa tak seharusnya.
“Aku
baik-baik saja ka, percayalah. Sakit ini tak membuat sedikitpun semangatku
pudar. Aku akan tetap berjalan, aku harus mengejar mimpiku meski waktu telah
menantiku. Percayalah bahwa aku sangat bahagia dengan ini.”
Kay
kau tahu bahwa aku begitu naif, aku tidak pernah menangis karna aku pikir aku
adalah orang yang kuat. Tapi Kay, kau membuatku menangis kini. Maafkan aku Kay.
Ku mohon bagilah lara itu, agar aku dapat menebus kesalahanku yang lalu.
“Kay,
mengapa kau simpan semua itu sendiri? Mengapa kau membiarkanku menebak-nebak
tak pasti? Percayalah padaku Kay, kumohon.”
Kay
hanya tersenyum, tapi binar matanya tak juga hilang. Mata tak mungkin berbohong
Kay, meski ku tahu kau lebih banyak berbohong ketimbang jujur. Kau bohong
bahkan pada dirimu sendiri. Mengapa kau selalu ingin terlihat baik-baik saja di
mata orang lain? Berhentilah Kay, sandarkan pundakmu dan menangislah semaumu.
“Kaka,
aku ingin meminta sesuatu bolehkah? Tapi permintaan ini harus dikabulkan.”
“Tentu
Kay, apa yang kau inginkan, berujarlah.”
“Aku
ingin kau pergi ka, tinggalkan aku. Carilah sahabat lain yang lebih baik. Aku
tahu kau layak mendapatkannya. Jangan kau sia-siakan waktumu hanya untuk orang
yang sakit jiwa sepertiku. Kau berhak mengejar mimpimu. Kau berhak bahagia. Aku
tak mau lagi membebanimu.”
Waktu
seakan terhenti. Sungguh, aku bahagia melihatmu dapat belajar mengungkapkan
perasaanmu, aku bahagia karna kau berbicara lebih banyak kini. Tapi jiwaku
begitu remuk, kata-kata dari mulutku terasa tertahan saat kau bilang agar aku
pergi meninggalkanmu.
“Ka...y,
katakanlah bahwa kau tak bersungguh-sungguh mengatakan itu! Katakanlah bahwa
kau ingin agar aku tetap berada disini. Apa orang yang sakit jiwa tidak berhak
punya sahabat Kay? Mengapa kau begitu jahat pada dirimu sendiri? Jika kau
merasa bahwa selama ini aku terbebani, itu SALAH Kay. Aku bahagia menjadi
sahabatmu.”
Aku
mungkin hanyalah seorang sahabat yang tercipta dipikirannya. Kay mungkin bisa
menghilangkanku kapan saja sesuai kehendaknya. Tapi aku tak mau meninggalkannya
dengan kondisi seperti ini. Duhai Allah, adakah tempat bagi seorang autis
seperti temanku di dunia ini.
“Terimakasih
ka, aku sangat bersyukur punya sahabat sepertimu. Tapi aku harus pergi, aku tak
bisa membohongi kata hatiku. Aku ingin pulang. Kumohon berlapanglah, karena aku
tahu kau akan mengerti meski tak ku jelaskan.”
Kumohon
jangan berkata seperti itu, tetaplah tinggal disini. Aku tetap sahabatmu bukan?
Kemanapun kau akan pergi. Aku berjanji akan berlapang dada, karena aku yakin
kelak akan menemuimu kembali, bahkan dalam atmosfir yang lebih baik.
Kay,
semoga kau dan dia bahagia meski ditempat
berbeda, menapaki rumusan massa baru dengan rasa sakit sebagai pemanisnya.
Meski aku tak tahu dia siapa.
Kay,
inikah jelaga tiga sangkakala, yang membuatku dan dirimu tahu rasa manis dari
cinta Tuhan?
Jelaga tiga sangkakala, membuatku tahu rasa manis dari cinta Tuhanku
Ini kisah tentang seonggok insan yang memulai karir pendidikan ala Indonesia-nya sejak usia 4 tahun. Taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, terus sampai kini menghuni sasana Perguruan Tinggi. Bila dihitung-hitung usianya kini sembilan belas tahun jalan. Tak ada yang istimewa dari manusia yang satu ini. Satu-satunya kelebihan manusia ini hanyalah "kekurangannya" yang berlebih. "Kekurangan" versi batangan-batangan insan di seantero dunianya. Mereka berbisik, berkata, membentak sampai berteriak "Kamu AUTIS!, Kamu ANEH!, Kamu SULIT DITEBAK!, Kamu CEROBOH saat berkendara! Kamu BERBEDA!, Kamu BERKEBUTUHAN KHUSUS!, Kamu "SAKIT", Kamu jarang bicara! Senang DIAM! Marah DIAM! Kesal DIAM! Bahagia DIAM! Sakitpun DIAM!"
Entahlah, Sang Introvert telah menjadi sahabat manusia yang satu ini sejak kecil. Entah secara nominal itu di idap sejak umur berapa banyak. Tapi "Sang" yang satu ini telah menjadi sahabatnya hingga kini. Biarlah, sebagai apologi sikap DIAM sesuai dengan ajaran yang dimaktub hadits. Meski akan banyak yang protes dan mulai berceramah saling sebrang tafsir.
Ngomong-ngomong kita sebut saja manusia yang satu ini dengan panggilan Kay. Ini kisah tentang Kay, yang coba diberi judul "Jelaga Tiga Sangkakala". Meski rasanya isi kisah akan punya hubungan kurang baik dengan judul. Tapi biarlah, kita lanjutkan. Toh kisah ini tidak akan berlama-lama. Singkat saja.
Sejauh pengamatanku soal Kay, dia memang begitu. Pertama kali bertemu, banyak rasa campur aduk. Mulai dari heran, aneh, unik dll. Aku mulai berfikir bahwa sosok yang satu ini begitu berbeda. Cocok untuk jadi kelinci percobaan, hmm maksudku objek pengamatan. Tapi semakin aku coba mendekat, aku semakin sulit mengenalnya. Kay justru menjelma menjadi orang asing. Dia tersesat, dia mengubur gunung berapi dalam jiwanya. Oh Tuhan, bagaimana jika gunung itu meletus saat aku mulai menjarah dunianya. Setidaknya itu yang aku baca dibuku, cepat atau lambat gunung tersebut akan meletus. Kalaupun tidak, maka pengubur gunung merapi tersebut yang akan mati!
Jelaga tiga sangkakala. Semua kata mengalir begitu saja, semua hanya praduga. Tak pernah keluar dari mulutnya. Kesal aku! Kenapa dia selalu memendam? Mau sampai kapan? Kay, sampai kapan kau tak mempercayai manusia? Ini semua pasti karena penghianatan, penderitaan, kesendirian. Ya, ini pasti karena itu semua. Kurang ajar mereka semua. Ini sungguh sadis. Pembunuhan karakter! List orang-orang tak bertanggung jawab itu sudah ada di tanganku Kay. Akan aku balas, meski aku tak tahu harus dengan cara apa.
Tubuhku jadi beku, saat kau tunjukan isyarat bahwa kau sudah melupakan semua, kau memaafkan mereka dan memutuskan untuk pergi perlahan. Kau tak pernah bicara Kay! Kau biarkan aku terseok-seok menerjemahkan sorot matamu yang penuh binar. Sejauh ku tahu, kau lebih sering berbohong ketimbang jujur. Kau berbohong bahkan pada dirimu sendiri. Tapi kau tak bisa membohongiku Kay, kau tak bisa membohongi orang yang sudah khatam buku-buku psikologi sepertiku.
Jelaga tiga sangkakala. Aku tahu, kau mulai tak suka dunia ini. Sakitmu mulai kumat ketika kau sadar telah tertipu dunia. Ah, dalamnya pikiranmu. "Ini 2012 Kay bukan zaman nabi! Tapi kau malah menatapku tajam. " Istirahatkan otakmu!" Kau berfikir keras sejak kau kecil, kini kau rapuh.
Aku mulai merenungkan obrolan kita tadi siang. Kita berbincang soal dunia. Kau ada benarnya, dunia ini panas Kay. Bagaikan berada diruang bertembok duri. Maju, mundur, kekiri ataupun kekanan, kita tetap akan berdarah. Aku ingat, kau bilang begini "Kawan, ku pikir orang yang memaknai hakikat dunia lebih dalam, tak akan punya keinginan hidup lebih lama. Kau tahu, tembok itu berduri dan aku lebih memilih naik keatas."
"Maksudmu?" Aku heran dan butuh penjelasan, sekarang!
Kay, alih-alih kau bertanggung jawab atas perkataanmu, kau malah pergi dengan alasan kau sedang sangat ingin coklat saat ini. Tapi ya sudah, kau tak pernah banyak bicara. Aku sudah terbiasa bekerja lembur untuk memecahkan teka-teki buatanmu ini. Meski kesimpulanku mungkin tak seperti isi hatimu.
Menarik Kay, ingin aku akhiri susun kata ini dengan mengenang diskusi kita akhir tahun lalu. Kita berbincang tentang harapan. Aku ingin sekali tahun 2012 ini bisa lebih baik, aku juga ingin bisa lulus tahun ini dan menjadi wartawan. "Bagaimana dengan kau Kay?" Aku tak sabar ingin dengar celotehannya, meski sedikit.
"Menapak rumusan massa baru, aku harap semoga tak lagi ada sangkakala berjelaga pada gugusan mangsa dua kosong satu dua. Berlindung pada Allah dari su'ul khotimah." ujar Kay. Hanya itu.
Baiklah Kay, aku siap bergadang lagi malam ini. Tak mungkin aku bisa tidur. Ah, jelaga tiga sangkakala. Membuatku tahu rasa manis dari cinta Tuhanku.
Gerah juga mengikuti kabar-kabar yang merebak akhir-akhir ini. Namun, suka tidak suka informasi terkini haruslah senantiasa diperbaharui. Meski sudah "jembar" mengingat apa yang di publish media hanya berkutat pada kisah-kisah buruk nan tragis yang menyisakan oleh-oleh sesak, kesal dan marah yang tak dapat disalurkan.
Coba perhatikan konten media akhir-akhir ini. Kasus Freeport, kasus Mesuji, kasus Bima, kasus pencurian sandal jepit milik anggota polisi oleh Aal bocah 15 tahun, dll. Ah, jika saja saya seorang polisi, saya bingung harus harus melakukan apa untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang perlahan memudar.
Terlalu dini rasanya saya menyoal penegakkan hukum di Indonesia mengingat ada yang jauh lebih kompeten dibanding saya, seperti bapak dan ibu pengacara, aktivis HAM, mahasiswa hukum atau para penegak hukum itu sendiri. Namun, semoga dengan menulis saya bisa sedikit menumpahkan unek-unek saya yang kian mengendap akibat mengkonsumsi berita-berita ala media di Indonesia.
Saat ini semua mata rasanya tertuju pada penegak hukum kebanggaan kita. Ya, polisi. Banyak yang marah, kecewa, mengecam, bahkan sampai menghujat polisi karna kinerjanya kini kian tak sejalan dengan slogan-nya, "Melindungi, Mengayomi dan Melayani Masyarakat". Kasus-kasus diatas adalah contoh kecil dari betapa lucunya penegakaan hukum di Indonesia.
Saya sebagai manusia yang "gagap" dan "bodoh" hukum sungguh sangat kecewa. Hukum makin tebang pilih dan pastinya dapat dibeli dengan mudah oleh uang. Aal, bocah 15 tahun yang mencuri sandal jepit saja harus mengalami tekanan psikis yang amat luar biasa karna harus menjalani persidangan hingga kini. Belum lagi sebelumnya ia mendapat penyiksaan secara fisik karna dipaksa mengaku. Pula kasus penyuapan polisi oleh perusahaan-perusahaan atau orang-orang besar untuk kemudian menindas orang-orang kecil yang terpinggirkan. Sungguh ironi mengingat begitu banyak nyawa-nyawa melayang demi membela sesuatu yang menjadi haknya, seperti pada kasus Mesuji, Bima dan Freeport.
Efek sampingnya ternyata tidak berhenti sampai disitu. Mau tidak mau noktah yang mencoreng penegakkan hukum di Indonesia kini merupakan embrional runtuhnya kestabilan dan kepercayaan hukum kelak. Coba bayangkan, jika sekarang saja banyak masyarakat yang tidak lagi mau menaruh rasa percaya pada hukum di Indonesia, apa jadinya negara ini beberapa tahun kedepan? kedamaian mungkin hanya akan menjadi kata kenangan yang diabadikan dalam kamus bahasa Indonesia. Naudzubillah.
Namun, hal tersebut tentu dapat dicegah. Kita sebagai masyarakat haruslah cerdas dalam mencerna berbagai berita yang ditayangkan media, dengan tidak mengeneralisasi hanya pada satu kasus saja. Kita pun hendaknya tidak lekas menjustifikasi sebelum mengkaji dan menganalisis lebih bijak. Saya yakin, dibelahan bumi Indonesia masih ada para penegak hukum yang jujur, adil dan amanah. Mereka senantiasa memperjuangkan hak masyarakat yang terdzolimi meski disisi lain harus juga berjuang mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Kitapun tentu harus mengapresiasi intikad mulia para penegak hukum termasuk kepolisian yang akan melakukan reformasi internal demi memperbaiki kualitas dan kinerja yang diharapkan dapat memulihkan kepercayaan masyarakat. Semoga kedepan, hukum di Indonesia dapat berjalan ke arah yang lebih baik dan para penegaknya pun diberi kekuatan serta kesabaran memperbaiki semua cela. Namun bukan dengan mencari kambing hitam, melainkan dengan menunjukan prestasi dan membuktikan realisasi slogannya selama ini. Semoga kita pun sebagai masyarakat dapat bersikap kian bijak dalam menyikapi tekanan-tekanan turbulensi yang melanda negeri ini serta tidak mudah terprovokasi pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.
Tetap semangat membangun negeri. Hidup hukum yang adil! Hidup polisi! Hidup Indonesia!
Kawan, aku sedang belajar mencintai-Nya dengan tulus
Tak ku hiraukan sungai-sungai damai dan permadani-permadani hijau riang
Tak ku idahkan jilatan merah menyala dan raksasa-raksasa murka menyiksa
Inikah cinta?
Kawan, aku sedang belajar mencintai-Nya dengan tulus
Ku lupakan semua mangsa, biar berlalu
Meski meninggalkan noktah hitam membeku, mengganggu!
Ku kubur peluh darah, ku kumpulkan dalam kotak amnesia
Biar kelak jadi hadiah indah manis pekat
Inikah ketulusan?
Kawan, aku sedang belajar mencintai-Nya dengan tulus
Sungguh, aku ingin enyah dari ini semua
Lelah, aku mulai ingin berjalan seimbang
Menikmati awan dan barisan cemara nan ramah
Biar tak ada lagi sebab
Biar tak ada lagi ceramah
Biar tak ada lagi tuduhan tersangka
Kawan, kuharap ini cinta
Ku harap ini ketulusan..
Tuhan, semua ku lakukan karena cinta
Cinta satu sebab
Cinta karna cinta..
Ya Allah, baru tahu aku jika begini rasanya. Semua bercampur aduk. Beberapa waktu kebelakang ini pelangi memang penuh warna. Ada coklat, abu-abu, ada hitam. Ya, si hitam nampaknya sang dominasi. Computerized Axial Tomography memanggil-manggil, "Kapan kau akan datang, sebulan sudah kau ingkar!". Aku bingung, sejauh ini aku memang sengaja lari dan mencari-cari alasan untuk menjauhinya. Tapi entah alasan apa lagi yang bisa aku tamparkan pada wajahnya. Napas sudah pengap-pengap. Ya, aku butuh dia. Aku harus datang.
Sang waktu memang sedang begitu perhatian. Orang-orang bergantian datang untuk berceramah, sok tau! Satu per satu menghampiri, ku kira untuk mengatakan ini : "Kau harus kuat, sabar ya!" tapi ternyata bukan. Ah, sejak kecil juga tak ada yang berkata seperti itu. Mengapa sekarang mengharap?
Pekan ini memang penuh warna, terimakasih Allah. Pelangi ini nampaknya hanya miliku. Pelangi dengan kolaborasi coklat, abu-abu dan hitam sebagai penghiasnya. Orang lain mana punya? Pelangi mereka klasik, hanya bergumul dengan yang mereka sebut Me, Ji, Ku, Hi, Bi, Nu, U. Aku mulai belajar tuli sekarang. Mendengar perkataan mereka membuat hati utuhku yang tinggal sedikit terancam keselamatannya.
Perkataan yang baik, katanya sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka bilang aku salah, bandel, gagal. Mereka bilang aku harus minta ampun pada-Mu. Ya Allah, aku tidak suka di ikut campuri. Kan Engkau lebih tahu, mereka memang serba ingin tahu tentang hubungan kita. Bak selebritis saja.
Duhai Allah, aku sudah kenyang dengan literasi-literasi itu. Percayalah, aku sudah sejak jauh-jauh hari tahu bahwa ini wajib. Demi-Mu, tak tak aku tinggalkan. Engkau memang Maha Tahu yang terbaik untukku. Maka jika Engkau memang menghendaki demikian. Bismillah, akan ku tinggalkan cangkang ini. Akan kuraih substansi di bumi lain.
Mulai sekarang, aku akan lebih mendengarkan-Mu dan mendengarkan malaikat-Mu. Malaikat yang di kakinya, ada syurga untukku. Malaikat yang murkanya membuat Kau pun murka. Duhai Allah, maaf atas keterlambatanku memahami semua ini. Bimbing hamba Ya-Rabb. Kuatkan hamba menghadapi manusia-manusia-Mu. Aamiin.
Tersesat, terjebak ruang introvert. Tak mampu bertutur, meski telah mencoba. Hanya berharap kelak Kau turunkan sosok pemaham dari langit. Kini, lebam-lebam ini kian menyakitkan. Bahkan urat-urat yang salah ini membuatku tak mampu menyuapkan makanan kemulutku sendiri. Hantaman 80 km/jam. Ini sudah yang ke-sembilan kalinya. Tapi, aku masih menunggu. Kapan Kau merindukanku?
Terkadang, aku merasa tak tahan ingin pulang. Meski hal tersebut masih ketimpangan. Sahabatku bilang, kita tidak boleh meminta mati. Tapi guruku bilang, kita harus merindukan mati. Berbeda dari itu semua, teman ku bilang dia teringat mobil ambulance dan keranda mayat ketika melihat wajahku. Jujur sekali dia. Entahlah, ini rindu yang tak tahu diri. Sholeh tidak, bekal tak cukup, amal masih buruk. Apa yang hendak dibanggakan?
Tapi tetap. Harapanku tetap. Tetap pada kerinduan awal, segera pulang. Tak mau aku habiskan masa tuaku disini.
Ya Allah, kukira hantaman 80km/ jam kemarin sore akan membawaku pulang. Tapi ternyata tidak. Aku tahu Kau menyayangiku. Kau beri aku kesempatan (lagi) untuk menyiapkan bekal terbaik sebelum saatnya tiba. Terimakasih dan segeralah duhai Allah..
Bila
kita mau sedikit saja menyisihkan waktu kita untuk merenung, tentu akan ada
rasa keprihatinan yang mendalam atas apa yang terjadi pada generasi muda di
negeri ini. Betapa tidak, hasil riset dari penelitian yang dilakukan oleh
KOMNAS Perlindungan Anak(2007) maupun BKKBN (2010) menyebutkan bahwa lebih dari
50% remaja perempuan telah kehilangan keperawanannya serta mengaku pernah
melakukan hubungan seks sebelum menikah. Parahnya, sebagian dari mereka
mengalami kasus hamil diluar nikah yang sudah barang tentu “melahirkan”
persoalan lain yakni maraknya praktik aborsi illegal.
Pun
pada kasus narkoba. Barang haram ini tercatat telah dikonsumsi oleh sekitar 19%
dari jumlah keseluruhan remaja di Indonesia. Itu berarti sekitar 14 ribu remaja
telah terindikasi sebagai pengguna narkoba baik itu jenis ganja, ekstasi,
amphetamine ataupun lem.
Tentu
hasil riset tersebut bukanlah suatu pertanda bahwa bangsa ini kelak akan menjadi
bangsa yang besar, tapi justru sebaliknya. Ini merupakan indikasi bahwa cepat
atau lambat, bangsa ini akan menemui ajalnya. Terkecuali jika kebobrokan ini
dienyahkan sebelum meradang tak tersembuhkan.
Salah Memahami Kata “Gaul”
Berbicara
soal degradasi moral khususnya pada generasi muda di Indonesia , membuat kita perlu
merenung lebih dalam guna mencari tahu apakah sebetulnya yang menyebabkan
kondisi generasi muda kini menjadi begitu memprihatinkan?
Tak
bisa dipungkiri, factor penyebab akan menjadi sangat mungkin berbeda-beda
bergantung pada siapa individunya. Namun, ada satu hal yang nampaknya telah
meradang hampir pada semua generasi muda yakni kesalahan dalam memahami kata “gaul”.
Kata
“gaul” tentu bukalah barang baru terlebih di dunianya kaum muda. Bila kita
perhatikan, generasi muda kini lebih memandang bahwa seseorang itu gaul
manakala memiliki pengetahuan luas soal fashion dan model pakaian terkini, up date soal film-film terbaru, album
para penyanyi atau grup band teranyar. Bahkan banyak diantara mereka yang
begitu fasih mengetahui bagaimana lifestyle para selebritis idolanya.
Selintas
tidak ada yang salah dengan aktivitas mencari tahu perkembangan music, film,
mode maupun trend hidup masa kini oleh para remaja. Namun hal tersebut bisa
menjadi cikal bakal pemicu rusaknya moral manakala kaum mudanya mulai latah untuk
mengikuti gaya hidup tersebut. Padahal gaya hidup tersebut telah membawa ide permisivisme (serba boleh) sertahedonisme (pemujaan terhadap
kenikmatan yang bersifat materi dan jasadi belaka) yang
sudah pasti merupakan pertanda buruk eksistensi bangsa dan agama.
Bukan
hanya itu, racun permisivisme
dan hedonisme juga akan membuat kaum muda mengalami penurunan
intelektual, penurunan produktivitas untuk berkarya hingga penurunan kepedulian
pada sekitarnya.
Inilah
embrio dari hancurnya generasi muda. Berawal dari salahnya kaum muda menilai
istilah “gaul”. Sehingga, baik disadari maupun tidak mereka sedikit demi
sedikit terperosok pada jurang permisivisme
dan hedonisme.
Hingga pada akhirnya kasus- kasus yang melanda
generasi muda tidak jauh dari narkoba, kriminalitas, seks bebas, minuman keras
dan masih banyak lagi kasus lainnya. Bila sudah begini, siapakah kemudian yang
harus bertanggung jawab? Tidak perlu menuduh siapapun, karna keputusan untuk
merubah diri kearah yang lebih baik ada ditangan pemuda itu sendiri, tentunya
ditambah dukungan dari keluarga, lingkungan, tokoh agama, guru maupun
pemerintah.
Agar Tidak Latah Kemudian
Ada
salah satu nasehat Imam Syafi’I yang patut kita renungkan. Beliau mengatakan
bahwa pemuda yang diakui eksistensinya dalam kehidupan hanyalah pemuda yang
memiliki dua hal, yakni ilmu dan iman. Bila kedua hal tersebut tidak ada dalam
diri seorang pemuda, maka kehadirannya di muka bumi ini tidak akan punya arti.
Diakui
maupun tidak, lemahnya iman pada generasi pemuda telah membuat mereka menjadi
tidak selektif dalam menerima hal-hal baru dari luar dan cenderung menjadi
latah dalam menjalani kehidupan. Padahal hal-hal baru yang datang dari luar
(red: barat)bila kita tidak cerdas menyaringnya justru malah akan membawa kita
kepada isme-isme yang menyesatkan. Sehingga, alangkah bijaknya manakala langkah
awal perubahan dimulai dengan mengokohkan iman serta mengokohkan aspek
penunjang lainnya seperti keilmuan, jaringan, amal, ekonomi dll.
Janganlah
takut dikatakan norak bila kita punya
semangat untuk selalu meningkatkan keimanan dan ilmu pengetahuan kita, baik itu
ilmu agama maupun ilmu umum yang bermanfaat. Adalah hal yang luar biasa
manakala generasi muda Indonesia memiliki keimanan yang kokoh, semangat tinggi
untuk terus belajar dan memperluas wawasan serta punya kepedulian pada sesama.
Itu baru gaul!
Ayo Bergerak, Tuntaskan Perubahan!
“Pohon
pisang tidak akan berbuah sebelum bertunas”
Bila
kita perhatikan, tidak ada pohon pisang yang berbuah sebelum bertunas (generasi
penerus). Pohon pisang lebih mendahulukan menyiapkan generasi penerusnya
sebelum berbuah. Jika pohon pisang berbuah, sudah pasti akan ditebang karna
tidak akan berbuah lagi. Sungguh tidak terbayangkan bagaimana jadinya populasi
pohon pisang jika sebelum bertunas pohon pisang sudah harus ditebang.
Ada
hikmah yang bisa kita ambil dari quote diatas, yakni mengenai urgensi generasi
muda sebagai penerus dalam memperjuangkan bangsa ini lebih baik kedepannya.
Tentu, menjadi generasi muda tidaklah mudah, banyak cabaran yang terkadang
memupuskan asa kita untuk melakukan perbaikan. Namun, sejenak tengoklah raksasa
dalam diri kita. Kita sebetulnya kuat, penuh potensi dan punya semangat tinggi.
Bangunkanlah raksasa itu!
Generasi
muda Indonesia bukanlah generasi yang lemah. Ayo bangkitkan semangat, jangan
henti belajar dan menebar kebaikan di tanah kita tercinta ini. Masing-masing
dari kita mampu ikut andil dalam perubahan. Lakukanlah yang terbaik yang bisa
kita lakukan untuk membawa bangsa ini kearah yang lebih baik. Bangkitkan
semangat, kuatkan langkah dan rebutlah setiap peluang. Generasi muda Indonesia,
bisa!
Teringat
kisah bangkitnya bangsa Jepang menjadi bangsa yang besar dan diperhitungkan.
Siapa sangka, dahulu bangsa Jepang pernah sangat hancur diluluhlantahkan bom
atom sehingga rakyatnya banyak yang binasa dan kalaupun hidup, mereka hidup
dalam kecacatan. Saat kondisi Jepang hancur lebur, bukan berapa banyak korban
wafat yang ditanya Kaisar Hirohito, bukan pula berapa kerugian yang diderita
tapi berapa guru yang tersisa. Ya, guru lah yang menjadi acuan utama, karna
masih adanya guru maka harapan kebangkitan Jepang masih terbuka lebar.
Guru
yang tersisa saat itu, dipompa semangatnya guna mendidik generasi penerus
dengan pendidikan kejujuran, keuletan, semangat dan nasionalisme. Kita bisa
lihat hasilnya, kini Jepang menjadi bangsa yang besar, cerdas dan karya-karya
anak bangsanya pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Disinilah letak betapa
posisi guru begitu penting. Sungguh tak dapat dibayangkan jika saat itu guru
tidak mendidik generasi muda dengan baik, mungkin kondisi Jepang kini tidak
akan jauh beda dengan saat masa kelamnya dahulu.
Pun
yang terjadi di Indonesia. Jika kita mau berkaca sebentar saja pada cermin
sejarah, sungguh peran guru begitu merasuk sampai relung-relung kebangkitan
bangsa ini. Mereka berjuang, mendidik generasi muda dengan menanamkan kesadaran
akan harga diri dan bangsa serta menanamkan semangat nasionalisme guna
menyongsong masa depan bangsa yang lebih baik.
Ibarat
pohon pisang yang tak berbuah sebelum bertunas, maka guru pun mengerahkan
segala potensi dan semangat berkorbannya untuk menyiapkan tunas terbaik yang
akan meneruskan perjuangan membawa bangsa ini pada podium jawara. Itulah
embrional dari kebangkitan bangsa ini lepas dari belenggu kelam penjajahan.
Guru,
dengan segala kelebihan dan semangat berkorbannya kadang terlupakan dalam benak
kita. Padahal kita bisa melakukan banyak hal adalah karna pondasi kuat yang
guru-guru kita bangun untuk kita, yakni membaca dan menulis.
Guru itu Kaya
Siapa
yang lebih kaya dibandingkan guru? Rasanya tak ada, meski mereka bukan kaya
dengan harta atau materi tapi lebih dari itu, mereka kaya dengan ilmu dan
kebaikan dalam mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Begitu banyak keutamaan yang
dimiliki oleh seorang guru, pertama mereka berilmu dan mengamalkan ilmunya pada
murid serta masyarakat dan karna itulah pahala yang mereka dapat berkepanjangan
dan tidak akan terputus.
“Siapa yang mengajak
kejalan mengerjakan sesuatu amal yang baik, adalah baginya
pahala sebanyak pahala orang-orang yang menurutnya, dengan tidak
mengurangi sedikit pun pahala itu dari pahala-pahala mereka; dan
(sebaliknya) sesiapa yang mengajak kejalan mengerjakan sesuatu amal yang
menyesatkan, adalah ia menanggung dosa sebanyak dosa orang-orang yang
menurutnya, dengan tidak mengurangi sedikit pun dosa itu dan dosa-dosa mereka.”(Muslim, Abu
Daud dan Tirmizi)
Kedua, guru akan selalu mendapat doa kebaikan atas
jasanya mengamalkan ilmu. Betapa setiap kata yang keluar dari lisannya
mengajarkan setiap muridnya pada kebenaran, akan berbuah doa yang tiada henti
bagi kebaikkannya.
“Sesungguhnya Allah, malaikat dan
ahli (penduduk) langit dan bumi; hinggakan semut di dalam lubang dan juga ikan
paus (meliputi seluruh haiwan di darat dan di laut) mendoakan kebaikan ke atas
orang yang mengajarkan perkara yang baik kepada manusia.” (HR Tirmidzi)
Hargai Gurumu!
Tidak
ada yang lebih membahagiakan bagi seorang guru selain melihat muridnya menuntut
ilmu dengan baik darinya dan mengamalkan ilmu yang didapat dalam kehidupan
sehari-hari. Mereka tidak mengharapkan pujian, sanjungan, hadiah ataupun
penghargaan. Melihat muridnya tumbuh menjadi manusia bergunapun telah cukup
membayar segala peluh dan lelahnya.
Mulai
sekarang, hargailah gurumu! Karna merekalah kita bisa membaca dan menulis
sebagai modal awal menapaki jalan berikutnya. Berterimakasihlah atas dedikasi
tulus yang guru kita berikan. Taatilah mereka selama apa yang mereka ajarkan
adalah kebaikan, ikuti arahan dan bimbingannya karna mereka pasti akan
memberikan yang terbaik bagi kita. Dan, doakanlah semoga akan selalu ada kebaikan
bagi guru-guru yang tak lelah mengajarkan kita segala hal tentang hidup, kebenaran,
perjuangan, semangat dan kesadaran akan harga diri bangsa.
Semoga,
diusianya yang menginjak 66 tahun sama seperti usia bangsa ini, guru dapat
lebih professional dan berkarakter serta dapat menularkan karekter kebaikannya
kepada murid-muridnya. Berkaca dari mirisnya kondisi bangsa kini yang krisis
akan kejujuran dan kepedulian. Semoga dapat menjadi suntikan semangat bagi guru
untuk terus berjuang menanamkan nilai kejujuran dan kepedulian pada generasi
muda Indonesia dan memperbaiki segala bentuk keruntuhan moral yang tengah
meradang bangsa ini. Sehingga dimasa depan, bangsa Indonesia dapat kembali pada
kejayaan. Teruslah bergerak menuntaskan perubahan pada bangsa ini! Terimakasih
guruku.
Jika dipikir-pikir
lebih dalam, waktu memang tidak terasa berlalu begitu cepat. Rasanya, baru saja
kemarin saya merasakan suasana Idul Adha di tanah Sleman, Jogjakarta, tepatnya
di Youth Center. Masih lekat dalam benak saya wajah-wajah ceria sang bocah
merapi, yang masih bisa berlarian riang ditengah ancaman gempa dan hujan debu
vulkanik yang membahayakan saluran pernafasan.
Kenangan itu
benar-benar membuat saya sangat sedih. Sungguh, saya merindukan saudara-saudara
saya di sana. Tapi, entah kapan saya kembali kesana mengingat kesempatan yang
kian menyempit. Jadi teringat ketika beberapa hari sebelum hari idul Adha tiba,
panitia memberi pengumuman bahwa di hari H idul Adha setelah shalat Id akan
diadakan makan bersama alias presmanan massal. Semua yang mendengar girang
bukan kepalang, begitupun saya dan teman-teman KAMMI UIN Bandung lainnya yang
saat itu diamanahkan menjadi relawan.
Asli seruuu.. dan tak
akan terlupakan hiruk pikuknya melayani makan dan minum untuk sekitar 1000
orang lebih. Makan kali ini begitu special. Bukan soal sate kambing, sop daging
sapi atau es campurnya yang segar. Tapi ini soal “kebersamaaaaannn”.
Saat-saat itu sangat
sulit saya lupakan, terlebih di hari ini, Idul Adha 1432 H, mengingatkan saya
pada elegi tak tertahan menyadari bahwa mereka kini telah jauh dan entah berada
di daerah mana. Saya dibandung, mereka di Jogja, itu pun sudah menyebar ke
berbagai daerah. Namun, tak kan ada yang bisa menghalangi ikatan tali Allah,
pun dengan seisi dunia, ikatan hati tidak akan pernah dapat dibeli. Semoga
saudaraku, dimanapun kalian berada, Allah senantiasa mengikat hati-hati kita.
Semoga kelak, kita dipertemukan kembali..
Salam untuk anak-anak
merapi mengispirasi, Salsa, Ridwan, Nanda, Isti, Fandy, Heriawan, Imam, Paijo,
dan semuanya ^_^
Kata
“autis” rasanya tidak asing lagi ditelinga saya. Ya, saya sering mendengar kata
itu sejak saya kecil, sejak saya mulai bisa mengingat segala sesuatu. Saat itu
kata “autis” banyak dilayangkan oleh orang-orang kepada saya. Saya saat itu
tidak mengerti mengapa orang-orang berpendapat seperti itu (sampai sekarangpun
belum mengerti). Saya sendiri tidak tahu apa itu “autis”? jika dia makhluk,
makhluk seperti apa? Jika dia benda, bentuknya seperti apa? Atau jika dia
makanan, makanan sejenis apa?
Awalnya
saya tidak pernah hiraukan apa kata orang-orang disekitar saya. Terutama kata
“autis”. Tidak saya hiraukan karna saya tidak mengerti. Tapi kok mengapa ya,
kata itu lengket banget. Tidak juga mau hilang dari kehidupan, hhe. Hingga suatu
hari ada seseorang (kesekianratus kalinya) menyebutkan “kamu autis yah..”. Saya
tidak tanggapi pernyataan itu (seperti biasa). Tapi sesampainya dirumah,
pernyataan seseorang tersebut membuat saya termenung (padahal biasanya saya
anggap angin lalu). Dalam hati saya bergumam, “APA ITU AUTIS? Apa betul saya
autis? Siapa yang menciptakan kata autis?”. Lebih dalam lagi hingga pertanyaan
tak terhitung meloncat satu persatu seperti kumpulan katak yang dilepaskan dari
jebakan. “Mengapa ada orang autis? Apa sebab seseorang dikatakan autis? Siapa
yang membuat kriteria seseorang dikatakan autis? Kapan pertama kali ada
seseorang yang disebut autis? Dimana, apa, bagaimana, mengapa begitu?” dan
banyak lagi pertanyaan tak terbendung.
Rasa
tak percaya, untuk pertama kalinya saya gerakkan jari saya pada keyboard. “APA
ITU AUTIS??”, saya tulis di kolom “mbah” google. Dan dalam waktu 0, 16 detik
serangkaian datapun muncul. Banyak sekali sampai saya bingung harus memilih
yang mana. Akhirnya saya pilih dua sumber yang rencananya akan saya baca dan
pahami, http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme
dan http://puterakembara.org/ciri.shtml.
Memang baru kali ini, 23 September 2011 pukul 01.06 dini hari saya “niat”
banget cari-cari data perihal autis, setelah lebih dari 15 tahun kata itu (red:
autis) akrab ditelingan saya.
Kata
yang akrab ditelinga ini memang terkadang membawa segelintingan informasi. Baik
itu sengaja dijelaskan sang hakim yang menyebut saya “autis”, atau secara tidak
sengaja saat nguping diskusinya anak-anak jurusan psikologi. Namun tidak pernah
banyak yang dapat saya ketahui. Mereka hanya berkata, “AUTIS itu kondisi dimana
seseorang sibuk dengan dunianya sendiri.”, “AUTIS itu kondisi dimana seseorang
kesulitan berinteraksi dengan lingkungan/masyarakat.”, “AUTIS itu
BLA..BLA..BLA..”.
Ah,
berkutat dengan kata autis membuat saya penasaran dengan novel yang kalau nggak
salah judulnya “Aku Memilih untuk Mati.” Menurut teman yang sudah baca, novel
itu juga berisi pertanyaan- pertanyaan besar dalam hidup si tokoh utamanya. Ya
beda dikit lah sama apa yang saya tanyakan di atas. Bedanya si tokoh dalam
novel ini bertanya-tanya mengenai konsep kebenaran, sedangkan saya bertanya-tanya
perihal ke-autis-an.