Selasa, 18 September 2012

Saya ingin “Meledak"





Katanya rasa kesal, emosi, kecewa atau marah adalah hal yang wajar. Sampai detik ini saya masih seorang manusia. Alhamdulillah. Meski banyak orang yang mempertanyakan mengapa saya tidak suka marah. Terkadang mereka juga penasaran dan mencari-cari kesempatan untuk melihat saya marah. Tapi percayalah, saat ini saya sedang marah. Sangat marah. Saking marahnya saya jadi tidak bernafsu untuk marah. Saking marahnya saya justru bingung harus melakukan apa. Marah ternyata tidak enak. Menyakitkan.
Banyak sebab, sebetulnya sudah lama. Tapi kali ini benar-benar keterlaluan. Entahlah, mungkin kebodohan saya yang membuat saya terlambat menyadari semuanya. Pak Asep Rohmat (guru ngaji) selalu bilang, “Kritisi dulu, lihat lebih dekat. Jangan asal tendang!”
Ah, menyebalkan. Rasanya tidak tahu apa-apa jauh lebih baik dari pada tahu duduk persoalannya tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Eh, tapi tak tahu apa-apa juga tak baik. Jangan mau dibodohi. Bukankah kita sekolah adalah agar menjadi pintar? Bukankah kita belajar agar kita menjadi orang yang cerdas dalam menjalani hidup?
Otak saya yang pas-pasan sudah mengeluarkan asap, baunya seperti nuget goreng yang gosong saat masak tadi sore. Padahal apa yang saya pikirkan sederhana, “Bagaimana caranya saya memberi pelajaran pada kecerobohan Metro TV dan bagaimana caranya saya bisa “menjitak” kepala Nakoula Basseley Nakoula dan antek-anteknya?”. Untuk sementara itu saja dulu.
Saya sangat marah, terutama dengan menyeruaknya pemberitaan media akhir-akhir ini. Saya cengeng, saya hanya bisa menangis karena amarah saya tak bisa saya lampiaskan. Apa jurnalis amatir seperti saya bisa berbuat sesuatu? Sedang untuk menelpon media dan berpendapatpun sambungannya diputus sepihak.
Menulis. Setidaknya ini membantu saya lebih tenang. Allah Maha Mengetahui segala isi hati hamba-Nya. Lakukan sesuatu, apapun itu! Bukankah Allah melihat proses bukan hasil?
Saya berdoa, semoga semua terbalaskan. Sekarang atau nanti. Oleh orang lain atau oleh saya. Saya belum memaafkan Metro TV atas pelanggaran HAM yang mereka lakukan (terutama pada edisi “Generasi Baru Teroris” yang menyebutkan ekstrakulikuler keagamaan di mesjid-mesjid adalah tempat perekrutan teroris). Juga, saya tidak akan memaafkan Nakoula Basseley Nakoula dkk atas kebodohan mereka membuat film “Innocent of Muslim”. Siapapun yang melecehkan, merusak atau mengobrak-abrik Islam. Demi Allah tidak akan saya maafkan.
Semua pasti terbalaskan, tinggal menunggu waktu!!

Rumah, 18 September 2012, 2:59
Vissiana Rizky Sutarmin

Minggu, 29 Juli 2012

Observasi Program Siaran yang Melanggar Etika


Opera Van Java (OVJ) Trans 7

Siapa yang tidak mengenal acara Opera Van Java atau yang lebih dikenal dengan nama OVJ? Ya, program yang sedang naik daun ini kian digandrungi oleh masyarakat. Baik orangtua, remaja sampai anak-anak. Bukan tanpa alasan, tentunya di tengah kondisi masyarakat yang permasalahannya kian kompleks tayangan komedi menjadi santapan lezat penghilang penat. Terlebih jam tayangnya yang hadir di waktu utama (Prime Time) membuat semua kalangan bisa menontonnya dengan bebas termasuk anak-anak.
Dibalik serunya ramuan komedi yang disuguhkan OVJ ternyata tersimpan virus latah yang berbahaya bagi masyarakat terlebih anak-anak dibawah umur. Ya, banyak point-point yang seharusnya bisa dihindari oleh acara sekaliber OVJ. Meski KPIP sempat menyatakan bahwa tayangan OVJ tidak melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standart Program Siaran (SPS) namun ada beberapa point penting yang seyogyanya diperbaiki.
Ada dua point yang ingin saya soroti. Pertama, dalam peraturan yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia nomor 02/P/KPI/12/2009 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standart Program Siaran (SPS) Bab IV tentang SARA dan Bab V tentang norma kesopanan. Bahwa seharusnya lembaga penyiaran (sebuah tayangan) dapat menghormati SARA, tidak merendahkan SARA ataupun melecehkan perbedaan individu dan kelompok mencakup keragaman budaya, gender usia dan kehidupan sosial ekonomi serta menghormati norma kesusilaan dan kesopanan. Namun dalam tayangan OVJ sering kita menyaksikan para pemainnya saling menghina dan melecehkan. Contohnya pada tayangan OVJ edisi selasa 20 September 2011 pukul 20.00-22.00 dimana saat itu Opie Kumis dan Aziz Gagap saling beradu hinaan satu sama lain.
Hal ini tentu bukan contoh yang baik terlebih disaksikan oleh banyak anak-anak. Karna kemungkinan anak-anak akan mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan saling menghina temannya (meski dalam taraf bercanda atau main-main). Tayangan saling hina itupun menyeret satu lagi Bab dalam P3SPS yakni bab VIII dimana para pemain OVJ sering menghina para pemain lain, bintang tamu atau penonton yang ada di studio dengan hinaan yang berkaitan dengan ukuran fisik yang tidak normal, cacat fisik, penderita penyakit tertentu dll.
Jika sudah demikian mengakarnya kebudayaan dalam panggung OVJ pada kehidupan anak-anak khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya maka OVJ telah melanggar Bab VII mengenai perlindungan dari hal-hal negative dan merugikan bagi anak-anak remaja dan wanita.
Persoalan kedua yang ingin saya soroti yakni pada tayangan siaran langsung. Bila pada siaran tunda suatu acara dapat diedit dan di sensor terlebih dahulu, tentu lain halnya jika siaran langsung. Meski komedi bermodalkan spontanitas, hendaknya para pengisi acara komedi dapat mengendalikan diri dari perbuatan atau perkataan yang bermakna negative dan berakibat buruk bagi yang menyaksikannya. Seringkali tayangan OVJ secara live terjadi diluar kontrol. Semua tayangan meski yang tak layak pun akhirnya disuguhkan kepada khalayak tanpa dapat terkendali. Baiknya OVJ dapat mempertimbangkan Bab. XXII. Pasal 32 mengenai siaran langsung, wajib berpedoman pada penggolongan program siaran , durasi, dan waktu siar sesuai usia khalayak penonton.
Meski menghibur, tayangan komedi di manapun dan pada stasiun apapun  hendaknya tidak melupakan peraturan yang berlaku. Sehingga apa yang sampai pada masyarakat tidak menimbulkan efek negatif yang tentunya akan sangat merugikan. Tentu kitapun mengapresiasi para lakon komedi dan tim kreatif tayangan komedi yang selalu ingin menghibur masyarakat. Hanya, besar harapan kita semoga apa yang kita konsumsi selain dapat menghibur, juga dapat mendidik dan memberikan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.

Revisi, 29 Juli 2012 0:15

Vissiana Rizky Sutarmin


*The image taken from google

Sabtu, 28 Juli 2012

Vantage Point, Beda!



Film yang pernah ditayangkan di bioskop TransTv ini merupakan sebuah film Amerika Serikat yang dirilis tahun 2008. Vantage Point di sutradarai oleh Pete Travis dan dan di produseri oleh Tania Landau dan Ricardo Del Río. Para pemeran dalam film ini diataranya Dennis Quaid (Thomas Barnes, Agen Rahasia), Matthew Fox (Kent Taylor, Agen Rahasia), Forest Whitaker (Howard Lewis, seorang turis Amerika), Sigourney Weaver (seorang produser berita), William Hurt (Presiden Amerika Serikat) Edgar Ramirez (mantan pansus), Ayelet Zurer (seorang teroris).
Vantage Point merupakan sebuah film bergenre  triller tentang penembakan Presiden Amerika di Spanyol saat akan mengadakan konferensi tentang pembrantasan Teroris di dunia. Presiden AS, yang rencananya akan berpidato tentang perdamaian tersebut di Spanyol, ditembak dari jarak jauh sesaat sebelum memulai pidatonya. Semuanya panik dari mulai warga yang menyaksikan, tim jurnalis, dan tentunya para tim keamanan US Secret Service. Terlebih sesaat setelah penembakan tersebut sebuah bom meledak dari arah bawah podium.
Berbeda dari biasanya, itulah kesan pertama saya setelah menonton film tersebut. Ada alur, angel dan pengkomposisian yang tak biasa. Sesuai dengan taglinenya “8 Strangers, 8 Point of View, 1 Truth”. Film ini menyuguhkan sebuah kejadian penembakan yang diihat dari 8 sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang pertama diihat dari Produser Berita, sudut pandang kedua dilihat dari pengawal presiden (agen rahasia), sudut pandang ketiga dilihat dari Polisi spanyol yang dimanfaatkan kekasihnya (yang ternyata seorang teroris) untuk membawakan tas berisi bom ke conferensi tersebut, sudut pandang ke empat dilihat dari seorang turis dari Amerika yang berada dalam kerumunan dan merekam segala hal yang dia lihat dengan handycamnya, sudut pandang kelima dilihat dari Presiden Amerika itu sendiri.
Adapun sudut pandang ke- 6 sampai ke- 8 jadi satu dipandang dari otak terorisme, pegawai hotel yang melakukan bom bunuh diri di hotel dan mantan pasukan khusus yang terpaksa ikut bergabung karena adiknya ditahan  oleh para teroris dan diancam untuk dibunuh.
Cerita dalam film Vantage Point dimulai pukul 11.59 dan berakhir sekitar pukul 12.30 bertempat di Salamanca, Spanyol. Hal menarik yang saya temui dalam film tersebut adalah susunan ceritanya yang ditampilkan dari berbagai sudut pandang. Hal tersebut membuat alur cerita jadi penuh tanda tanya, bahkan diakhir cerita saya sendiri tidak menyangka jika otak dari pembunuhan dan pemboman tersebut adalah “dia”. Adapun hal menarik lainnya adalah penggunaan handphone untuk mengendalikan aksi kejahatan oleh si otak terorisme tersebut. Dalam film tersebut, si otak terorisme menggunakan handphone-nya sebagai pengendali senapan otomatis dan meledakkan bom yang berada dibawah podium presiden.
Film yang luar biasa dan sangat menarik untuk ditonton. Konspirasi didalamnya membuat emosi penonton jadi tak menentu. Dari mulai konspirasi pelaku kejahatan yang ternyata “orang dalam” sampai bentuk pencitraan ke-adidaya-an Amerika Serikat dalam mempertahankan  kekuatan negaranya meski diawal cerita Amerika Serikat seolah terpuruk karena konsep pertahanannya dapat tercium oleh para pelaku terorisme.
Menurut saya film ini sangat berkualitas dan “keren”. Namun meski demikian ada beberapa hal yang saya kurang begitu suka, diantaranya pemilihan aktor pemeran teroris yang paras serta perawakannya ke Arab-araban. Sengaja tidak sengaja hal ini membuat adanya sebuah pesan dari film tersebut bahwa teroris itu ya Islam. Ini dikarenakan di dunia barat sendiri segala sesuatu tentang Arab selalu pasti dikaitkan dengan Islam.
Adapun hal lain yang ingin saya kritisi adalah angel saat kejar-kejaran, sepertinya pengambilan gambar tersebut dilakukan berkali-kali dengan satu kamera sehingga ada beberapa scene yang terlihat berbeda. Film yang unik dan layak ditonton terutama bagi yang berniat menjadikannya bahan pengamatan. 


Revisi, 28 Juli 2012 23:41

Vissiana Rizky Sutarmin


*The image taken from google

Me vs Preman Terminal Guntur

Cerita ini sebetulnya terhitung jadul karena sudah terjadi lebih dari sebulan yang lalu. Namun seorang kawan meminta saya untuk terus mengingat kejadian tersebut sebagai pelajaran. Nah, berhubung saya pelupa, rasanya tak terlambat saya tuliskan disini, mumpung ingat.

Kemarin sore sekitar jam setengah empat saya dan dua orang teman saya melihat-lihat produksi acara di TVRI. Seorang kameraman menawarkan kepada kami untuk masuk ke studio dan melihat langsung proses syuting acara (karena kebetulan saat itu kami hanya mengintip-intip dibalik celah pintu :P). Akhirnya saya dan kedua teman saya (Rio dan Yudha) masuk dan duduk tepat di depan para tallent. Acara saat itu adalah “Terapi”, semacam acara talk show tentang kesehatan. Bintang tamu acara tersebut biasanya berasal dari klinik-klinik pengobatan alternatif. Kita mungkin tak asing dengan beberapa klinik ini, seperti Klinik Chongsang, Klinik Botani, Klinik Ganesha dll (sering nongol di tipi soalnya, heu).
Sore itu bintang tamunya berasal dari Klinik Bathiniyah, dua orang dengan ”setelan” baju gamis dan balutan sorban, serba putih. Saya lupa nama keduanya namun intinya mereka mengusung sebuah gagasan pengobatan dengan metode perbaikan hati (batiniyah), paradigma (keyakinan dan positif thinking) serta mediasi kelinci untuk memindahkan penyakit pasien. 
Singkat cerita, tanpa disangka salah satu ustadz dalam pembicaraannya tiba-tiba berkata, “bla..bla..bla.. contohnya seperti mbak yang duduk didepan, yang memakai kerudung hitam dan berkacamata..”. What, maksud ustadz itu gue??  Kaget, sungguh. Karena semua orang akhirnya melihat ke arah saya. “.. Anda kalau saya lihat adalah tipe orang yang dalam melaksanakan sesuatu atau menginginkan sesuatu harus cepat..bla..bla.. bla..” lanjut ustadz tersebut.
Ekspresi saya saat itu kurang lebih seperti ini -____-“.. haduuuhh..
Saat itu saya coba maklum jika ustadz tersebut berkata seperti itu, karena sangat mungkin ustadz tersebut dapat membaca karakter orang (klinik bathiniyah gitu looh!!). Jika direnungkan perkataan ustadz tersebut memang ada benarnya. Saya cenderung ingin cepat dalam melaksanakan sesuatu, tidak suka menunggu orang lain dulu untuk melaksanakannya. Pun ketika menginginkan sesuatu, saya pasti akan melaksanakannya meskipun  terkadang tidak memungkinkan. Contoh, dulu pernah suatu malam sekitar jam 10.00 tiba-tiba saya ingin melihat hamparan sawah, saya tetap pergi meski orang tua “geleng-geleng kepala”. Saya juga cenderung akan mengerjakan tugas kuliah kelompok sendiri karena mengandalkan teman-teman kelompok itu membuang waktu. 
Nah, karena perkataan ustadz tersebutlah saya jadi ingat kejadian 17 Juni yang lalu. Saat itu saya dan teman-teman organisasi usai melaksanakan agenda lokakarya yang digelar sejak tanggal 15 Juni di Garut. Baik pemberangkatan maupun pulang kami semua memakai jasa angkutan umum (tidak menyewa mobil atau truk TNI, heu). Saat pemberangkatan saya ketinggalan kereta dan saat pulang saya “dikeroyok” preman terminal Guntur. Perfecto.
Kejadian 17 Juni memang mengesankan. Saat itu saya dan teman-teman turun dari angkot dan akan meneruskan perjalanan dengan elf jurusan Cicaheum-Garut. Saya dan teman-teman saat itu menunggu cukup lama rombongan kedua (mayoritas laki-laki) dibawah terik matahari yang menyengat. Baik ketua organisasi, ketua oc maupun penanggung jawab transportasi ada dirombongan kedua sehingga saya dan teman-teman yang sudah sampai lebih dulu diterminal harus menunggu. Saya bosan, dan akhirnya saya memutuskan untuk mencari elf yang bisa disewa dengan harapan ketika rombongan kedua datang kami semua bisa langsung pulang karena elf telah tersedia. Meski mayoritas teman-teman saat itu berpendapat lebih baik laki-laki yang mengurus itu namun saya tetap pergi, ditemani seorang teman akhwat akhirnya saya menemui seseorang.
 
Alangkah kagetnya ketika salah seorang pemuda yang saat itu kami temui tiba-tiba memanggil teman-temannya, “ieu aya nu rek nyewa elf ka bandung”. Suasana jadi tegang dan semakin tegang karena datang satu persatu orang berperawakan tinggi besar, berpakaian smerawut dengan tato memenuhi tangan . Tanpa kami sadari sudah sekitar lima sampai tujuh orang preman mengelilingi kami. Jika dalam film, ini bak situasi dimana sang pemeran utama akan dihajar para penjahat. Hiperbola.
Saya perhatikan satu persatu dan ketakutan pun mulai muncul. Namun saya harus bisa mengendalikan diri, saya tidak boleh terlihat lemah karena itu akan membunuh diri saya sendiri. Atas kekuatan yang telah Allah berikan akhirnya saya dan seorang teman saya berhasil menyampaikan maksud menyewa elf dengan nada yang tegas dan penuh keberanian (hehe..)
Awalnya kaget karena mereka menjawab tawaran kami dengan nada membentak dan keras kepala. Kami beradu tawar harga sewa dengan situasi yang teramat panas dan menegangkan (padalah ma woles aja ya) karena preman-preman itu dulu yang membuat situasinya jadi panas. Mereka menawarkan harga yang begitu mahal sedangkan saya dan teman saya tidak sepakat dengan harga tersebut.  Cukup lama juga kami berdebat dan saling kekeuh hingga akhirnya saya berkata “Yaudah pak, kalo gak mau 110 kita cari yang lain aja. Silakan kalo bapak lebih milih nunggu penumpang lain yang ga jelas adanya kapan. Lagian mahal amat sih, kan kita ga nyampe terminal dan bapak juga masih bisa ngangkut penumpang laen. ”
Alhamdulillah, akhirnya ntu preman-preman setuju, meski dengan raut wajah kecewa, “nya tos atulah neng”. Yes akhirnya. Ga nyangka bisa berhasil. ALHAMDULILLAH.. 
Kami berduapun memanggil teman-teman untuk naik, dan alangkah herannya saya ketika melihat ternyata rombongan laki-laki malah lagi asik jajan dan parahnya lagi gak bagi-bagi jajananya, heu. Padahal berdebat dengan preman lumayan bikin haus . Huh, tapi lucu juga sih. 
Akhirnya kami pulang dengan selamat. Ketika saya sampai dirumah dan beristirahat, saya mendapatkan sms dari salah satu teman yang isinya kurang lebih begini, “Kaz tau ga, menurut banyak orang, preman garut itu jauh lebih galak dibanding preman bandung. Alhamdulillah selamat.”
Antara serem karena membayangkan hal yang buruk dan rasa ingin tertawa berkolaborasi jadi satu. Subhanallah, untung tahu bahwa preman garut itu galak setelah pulang. Jika saja tahunya sejak awal mungkin saya kan berpikir 2x untuk menghadapi mereka. Haha, lagi-lagi rasa ingin cepat melaksanakan sesuatu memberikan saya banyak rasa.
Alhamdulillah, banyak pelajaran yang bisa saya dapat dari kejadian tersebut. Jangan pernah takut mengahadapi apapun dan siapapun selama kita masih punya Allah dan selama kita yakin berada dijalan yang benar, bukankah Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu? Terkadang kita takut dan khawatir menghadapi sesuatu padahal sesuatu tersebut tidak sebesar dan seseram yang kita bayangkan. Be positif, dalam hal apapun baik berfikir, bertindak maupun berprasangka.
Saya bukalah seorang pemberani. Namun, semoga Allah senantiasa melindungi dan menguatkan saya, kamu dan kita semua :D

Rumah, 28 Juli 2012 22:57
Vissiana Rizky Sutarmin


*The image taken from google

Senin, 11 Juni 2012

Two Weeks Without Sleep




Rasanya judul diatas terlalu berlebihan. Dua minggu tanpa tidur? Yang benar saja, itu berarti secara tidak langsung saya mengatakan bahwa saya tidak tidur sama sekali selama 336 jam. Kenyataannya saya tetap tidur, ya meskipun hanya 1 sampai dua jam perhari.
Sebetulnya insomnia yang lima tahun kebelakang menjangkit saya bukanlah penyebabnya. Alasan utama justru karena memang tugas-tugas semakin banyak mengantre untuk dikerjakan. Secara hiperbola mereka bagai pahlawan, mati satu tumbuh seribu. Allah begitu Maha Baik, dengan kuasa-Nya fenomena ini Dia jawab penuh bijak dalam QS. Al- Insyirah ayat 7-8.
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain) dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” (QS. Al-Isyirah 7-8)
Begitu sulit memanfaatkan waktu tiap jam, menit dan detiknya dengan penuh kebaikan. Selalu saja ada beberapa waktu yang terlewat dengan percuma. Padahal amanah kita di dunia ini jauh lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia. Semoga Allah menetapkan kita pada golongan orang-orang yang beruntung karena memaksimalkan waktunya dengan agenda-agenda kebaikan. Semoga Allah menjauhkan kita dari sikap malas dan tidak produktif. Semoga Allah mengaruniakan kesehatan dan menguatkan kita dalam menjalani hidup di dunia yang kian “panas” ini.

Ya Rabb, hamba sadar betul atas segala kenistaan hamba.
Namun, izinkan hamba tetap merindukan-Mu..


Rumah, 11 Juni 2012 21:21

Vissiana Rizky Sutarmin


* Seluruh gambar dalam blog ini diambil dari berbagai sumber

Sabtu, 28 April 2012

Rindu Menulis




Rasanya beberapa waktu belakangan ini kurang produktif. Alhamdulillah, selalu ada yang bisa dilakukan setiap harinya, mudah-mudahan tidak lepas dari kebermanfaatan. Tapi, itu dia. Kurang produktif menghasilkan tulisan. Seandainya boleh beralibi, tulisan-tulisan kini jarang muncul mungkin karena tugas deadline yang kian mencekik. Aktivitas organisasi dan aktivitas ekstra lainnya tiba-tiba terjadi bersamaan, hubungannya dengan schedule time pun jadi kurang akur.
Dan satu hal, berat mengakuinya namun memang beberapa waktu kebelakang ini sesuatu dikepala saya begitu rajin datang. Bahkan obat penahan rasa sakit 1200mg pun tak mempan lagi memukul mundur. Ah, tapi tak baik juga beralibi. Intinya semua aktivitas ekstra dan aktivitas menggugurkan dosa harusnya tak menjadi alasan penurunan karya. Namun sayang, ternyata saya tak sekuat itu.
Rindu sekali, sungguh. Kerinduan saya akan menulis kini bertunas menjadi resah. Resah, karena seluruh erangan jiwa tak saya biarkan tertumpah. Saat ini memang bukanlah saat yang cukup luang untuk menulis. Namun, keresahan membuat saya tak bisa menahannya lagi. Meski saya tahu pelampiasan keresahan ini hanya berbuah sebuah tulisan tak jelas dan mungkin minim manfaat bagi sahabat-sahabat yang berkenan membacanya.
Harapan yang teramat mendesak agar kemudian Allah berkenan mengabulkannya, adalah agar saya dapat menjadi insan yang lebih bermanfaat lagi bagi semua. Agar saya dikuatkan untuk senantiasa mengisi waktu dengan hal-hal yang baik. Agar Allah menjauhkan saya dari kesia-siaan. Dan agar Allah mentaqdirkan saya berpulang dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin..

Duhai Allah, mengapa waktu begitu terasa pahit?
Bahkan lebih pahit dari obat penahan rasa sakit 600mg yang biasa kuminum
Apa karena ada yang aku tunggu?
Duhai Allah, maaf diri nista ini takabur
Karena sok merindukan-Mu..


Rumah, 28 April 2012 23:06

Vissiana Rizky Sutarmin 

Kamis, 22 Maret 2012

Elegi Kamis Senja



 Ya Allah..Izinkan hamba kuat menghadapi segala cabaran yang menghadang. Izinkan hamba tegar menghadapi dunia yang menyakitkan. Izinkan hamba lapang menghadapi manusia yang menghina. Izinkan hamba tabah menghadapi makhlukmu yang bermulut tajam.
Ya Allah..Izinkan hamba kuat memikul nyeri dzahir yang kian meradang. Izinkan hamba cerdik menghadapi orang-orang licik. Izinkan hamba marah pada siapa saja yang membawa keburukan. Izinkan hamba bertanya, “Mengapa Kau takdirkan jalan ini pada hamba?”
Ya Allah..Izinkan hamba bersikap manja pada-Mu, menangis sepuasnya, menjerit sekencangnya. Izinkan hamba memohon ampun pada-Mu. Memohon ampun atas segala prasangka buruk yang pernah mampir bahkan bermalam di jiwa hamba. Memohon ampun atas segala protes yang pernah terlontar dari mulut hamba.
Ampuni hamba Ya Allah. Atas demonstrasi diri hamba pada-Mu, meminta transparansi makna penciptaan hamba melangkah di bumi ini. Atas segala tanya yang kian tak terbendung. Atas harap pinta hamba yang tak tahu diri. Atas cita-cita hamba yang tak mau lebih lama lagi menghabiskan massa di dunia yang membingungkan ini.
Karena hamba yakin Engkau begitu Maha Baik.
Izinkanlah.. Ampunilah..

Cibiru, 22 Maret 2012 18:27
Elegi Kamis Senja



*Seluruh gambar dalam blog ini di ambil dari berbagai situs

Kamis, 01 Maret 2012

Desember Dua Ribu Sepuluh



Bulan ini memang sok sibuk. Semua berkolaborasi jadi satu, bersekutu menyerbu. Memang bukanlah hal yang tabu, meski diri tetap tak mau tahu. Ya, inilah Desember dua ribu sepuluh. Ingin aku tumpahkan semua agar kelak suatu saat tak lagi merasa the javu.
Kalian tahu? Ujian Akhir Semester, klasik. Namun konspirasinya yang mengajak serta semua duka membuatnya menjadi relatif, tak lagi klasik. Lima hari pula dari sebulan itu, ditangisi terus. Disesali pula, padahal belum dihadapi. Bukankah penyesalan itu datang belakangan? Ah, mungkin ini uniknya Desember dua ribu sepuluh.
Ditangisi? Sudah. Disesali? Sudah. Kini giliran menghadapi. Tak sama sekali ada cahaya wajah menyambut lima hari yang bertempat di Kiara Payung itu, yang ada hanyalah besarnya asa untuk segera pulang. Padahal banyak cahaya ditebar massa itu, tentu pula dengan cabaran sebagai pemanisnya.
Alhamdulillah, begitu baiknya Allah. Kurang dari 1 km saja sudah tercipta banyak lebam dibadan, plus cairan warna merah di telapak tangan kiri. Hmm, manisnya rasa sakit saat itu. Membuat semua alang hilang terbang. Tepat setelah jatuh itu lah, semua rasa sedih, malas, dan sesal angkat kaki dari dalam jiwa. Bahagianya, karena semua hal positif akhirnya datang.
Sungguh, sampai detik ini tak pernah ada sesal seincipun telah melalui Desember dua ribu sepuluh. Meski tak dipungkiri, diri yang pandir begitu senang menjustifikasi duri. Padahal hakikatnya membumbui. Ujian Akhir Semester, tugas menumpuk, QLT 2, hantaman 80 km/jam yang ke-5, Computerized Axial Tomography, pertanggungjawaban. Semua menjadikan Desember dua ribu sepuluh begitu syahdu.
Tapi, ingin sekali mengakui bahwa ada satu hal lagi yang membuat Desember dua ribu sepuluh penuh makna. Lima hari yang luar biasa di Kiara Payung? Ya memang, namun ada hal lain. Hal itu adalah manakala skenario Allah, menjadikannya kuat untuk menampakkan diri menebar cahaya. Inspiratif, mengajarkan bahwa sakit bukanlah halangan untuk berjuang dan menebar kebaikan.
Diberi nama awan biru, sebut saja begitu. Meski sampai detik ini tak mengerti, tapi biarlah. Bukankah mengambil hikmah itu adalah tugas akhir? Kita sama-sama tahu, awan biru itu teduh. Tak pernah nampak amarah. Awan biru, membuat kita belajar menghadapi hidup dengan penuh cerah. Tak ada muram durja, tak ada pesimis.
Belum sempat mengenal awan biru, ia jauh diatas sedang kita hanya memandang keindahannya dari tanah. Awan biru, bertemu untuk yang pertama. Semoga bukan yang terakhir, mengingat sampai detik ini awan biru entah dimana rimbanya.
Alhamdulillah, benar kan? Skenario Allah adalah yang terbaik dan terindah. Apapun cabaran yang kau hadapi, percayalah bahwa semua adalah karena cinta. Ya, cinta Allah pada hamba-Nya. Percayalah..

Duhai Maha Cinta, ini adalah awan biru Desember dua ribu sepuluh.
Kini dua ribu dua belas, belum terlihat lagi.


Cibiru, 01 Maret 2012 23:29
Vissiana Rizky Sutarmin

* seluruh gambar dalam blog ini di dapat dari berbagai situs

Selasa, 28 Februari 2012

Antara Peluh Pejuang Jalanan dan Pahitnya Raut Wajah Kementerian



Sempat berfikir, mengapa saudara-saudara saya lebih memilih berpanas-panasan kejalan untuk meminta bantuan. Mengapa mereka tidak mendatangi intansi terkait yang dapat membantu mereka mewujudkan asanya, “Membangun mesjid atau pesantren”.
Sempat juga merasa malu, melihat saudara-saudara saya mempertaruhkan harga dirinya demi selembar uang lusuh Kapitan Patimura. Atau logam berkarat berlambang pancasila. Mengapa mereka mempermalukan agama mereka dengan memelas dijalan? Mengapa mereka tidak meminta “Orang-orang atas” untuk meringankan beban mereka.
Sungguh, tak pernah saya sangka bahwa jawaban atas keheranan, kebingungan dan tanda tanya dalam fikiran saya akan terjawab secepat ini. Allah begitu baik, dengan tidak membiarkan saya terlalu lama dalam jelaga suudzon pada saudara saya sendiri.
Saudaraku, terlalu dini memang. Namun, kini saya dapat mengerti. Mengapa kalian lebih memilih cara radikal dengan meminta-minta dijalan dibanding mengajukan proposal bantuan pada Kementerian atau lembaga terkait. Mungkin inilah satu dari sekian banyak alasannya.
Sungguh saya bersyukur atas luka yang telah ditorehkan para Pejabat Kementerian “X” kepada saya. Karena dengan itulah saya menangis, mengingat dosa-dosa yang luput dari taubat, mengingat kedzoliman saya pada saudara saya dan membuat saya semakin yakin, bahwa dakwah bukanlah jalan bertabur bunga.
Saudaraku, ternyata sulit ya menemui orang-orang Islam yang dapat menerima saya. Padahal saya adalah saudara mereka semuslim, dan mereka pun adalah saudara saya semuslim. Tak pernah saya kira, bahwa prinsip “Antara muslim yang satu dengan yang lain itu bersaudara” telah lama dimuseumkan. Tak pernah saya duga, bahwa senyum saudara saya di Kementerian akan semahal ini.
Saudaraku yang turun kejalan, maaf atas jelaga yang telah saya ukir dalam kanvas kehidupan yang amat singkat ini. Maaf atas segala prasangka buruk yang pernah terlintas dalam fikiran saya. Maaf saya pernah berkesimpulan bahwa tindakan kalian meminta-minta dijalan dengan label “Pembangunan Mesjid” itu sangat memalukan Islam.
Saya mengerti, terlalu dini untuk menyimpulkan ini semua mengingat banyak sekali aspek yang perlu sama-sama kita kaji, agar kemudian tak lagi ada prasangka diantara kita. Namun, biarlah kekecewaan pada “orang-orang atas” ini menjadi penawar agar kemudian saya bisa lebih memahami saudara-saudara saya yang dengan speaker diatas mobilnya menyerukan “Bapak-bapak ibu-ibu yang baik hati, mohon bantuan bagi pembangunan bla..bla..bla..” Biarlah wajah pahit Kementerian membuat saya lebih menghormati saudara-saudara saya yang mengarak kotak amal kejalanan.
Saudaraku yang berpeluh-peluh dijalan, semoga Allah senantiasa memelihara hati kita dari penyakit dan senantiasa membimbing hati kita agar senantiasa sibuk karena Allah. Semoga kita semua dilindungi dari niat jahat nan pandir. Semoga Allah mengampuni kita atas jalan yang mungkin tersalah. Semoga Allah senantiasa meridhoi langkah kita.
Dan, untuk saudara-saudaraku para pengabdi negara yang menghabiskan waktu kerja dikantin, untuk para pengemban amanat rakyat yang duduk santai dengan kepulan asap dimeja kerja, untuk para pejabat yang lupa bahwa mereka adalah makhluk lemah, untuk para pegawai negara yang kesulitan ramah melayani rakyat. Semoga hidayah dan inayah-Nya senantiasa menaungi kalian. Terimakasih atas pengalaman yang amat berharga ini. Terimakasih telah melempar saya dan mungkin saudara-saudara saya yang lain bak bola pingpong. Terimakasih atas penerimaan kalian yang begitu mengesankan.
Ingin kembali saya tekankan bahwa mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan ini semua. Namun, biarlah ini menjadi catatan kehidupan saya. Biarlah ini menjadi pengingat untuk saya dimasa depan, bahwa saya pernah menjadi rakyat kecil yang diperlakukan “istimewa” oleh para pejabat negara. Biarlah ini menjadi bukti, bahwa kedzoliman pada rakyat kecil yang sering digembar-gemborkan di TV pernah saya alami sendiri.
Alhamdulillah, Maha Besar Allah yang senantiasa menyayangi hamba-Nya dengan cara-Nya yang tak terduga. Maha Besar Allah yang senantiasa menurunkan hikmah agar hamba-Nya bersyukur dan berfikir.



Senin, 27 Februari 2012 23:22
Refleksi sepulang dari kantor Kementerian “X”
Addhoif
Vissiana Rizky Sutarmin

Jumat, 24 Februari 2012

Jelaga Tiga Sangkakala.. #2




Karena rasa sakit itu manis, maka berbahagialah

Hujan diluar begitu deras Kay, petirnya pun membuat jiwaku tak tenang. Kau ada dimana? Berminggu-minggu, sampai sebulan kau menghilang entah kemana. Sudah kucari, sampai ke jembatan awan tempat kau biasa menyendiri, tapi kau tidak ada disana.
Aku tak bisa tidur Kay, terlebih suara hujan dan petir yang tidak jua usai. Jiwaku berdebar, tak tenang. Pikiranku mengawang-ngawang, terbayang telah terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu. Tidak , jangan! Jangan sampai apa yang aku bayangkan terjadi.
“Ka.. buka pintunya..!!”
Aku tersadar dari lamunanku. Siapa yang bertamu malam-malam ditengah hujan deras? Tanpa pikir panjang aku bukakan pintu. Betapa terkejutnya aku, Kay ada dihadapanku dengan wajah lusuh, basah kuyup.
“Kay.. kemana saja kau? Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Mengapa kau menangis? Ada apa?”
Tapi seperti yang aku duga, Kay tak berkata sepatah katapun. Kay hanya duduk di kursi sambil gemetaran, tatapan matanya kosong. Aku siapkan secangkir susu coklat panas dan sepotong kue coklat, ini kesukaannya. Aku simpan dimeja, aku minta Kay segera meminumnya selagi panas.
Melihatnya, akupun jadi ikut terdiam. Aku jadi tak kuasa untuk menginterogasinya, meminta penjelasan mengapa dia menghilang selama ini. Tangan Kay tetap gemetaran, mungkin karena seluruh pakaiannya lusuh. Kay menolak waktu ku sodorkan baju kering untuk menggantikan baju basahnya.
Kay meraih secangkir susu coklat lalu meminumnya, tapi setelah itu dia menangis, dan tangisannya semakin kencang. Ada apa Kay? Beban apa lagi yang harus kau tanggung hingga kau selara ini.
“Ka, selama ini aku pergi karna aku sedang ingin sendiri. Tapi selain itu, aku juga pergi adalah untuk diam-diam membuntuti segala aktivitas dia. Tahukah kau ka, kasihan dia. Dia begitu lemah dan mudah sekali pingsan ketika sedikit saja kelelahan. Menurut kabar, ada rasa sakit yang amat sangat di bagian perutnya.”
Kay terdiam, lalu kembali bicara. Aku tak akan memotongnya, akan aku dengarkan sungguh-sungguh. Aku tahu, jarang sekali dia dapat berbicara banyak.
Dia baik ka, shaleh dan sangat cerdas. Dia layak mendapatkan hidup yang lebih lama. Dia layak mewujudkan segala impiannya. Ka, seandainya Allah mengijinkan, ingin sekali aku dapat membantunya. Aku ingin dia sehat. Aku tak mau lagi melihatnya mondar-mandir ke rumah sakit.”
“Aku tak mengerti Kay, apa maksudmu? Siapa itu dia?” tanyaku.
“Kau begitu baik ka, sangat baik. Selama ini aku memang menyembunyikan sesuatu darimu. Aku tak ingin kau tahu karena aku tak mau kau mengasihaniku.”
Kay, teka-teki apa lagi yang akan kau tumpahkan ke otakku. Mengapa kau serumit ini. Selama ini aku kira aku adalah orang yang berhasil memecahkan makna diammu. Tapi ternyata masih ada, atau lebih tepatnya masih banyak yang belum aku fahami. Masih banyak yang kau sembunyikan.
“Ka, sebetulnya selama ini aku sakit. Aku mungkin tak akan bisa sembuh lagi. Aku tahu, Dokter  Agusta memang sok tahu dan cerewet. Dia bilang aku harus lebih menjaga diri dan memanfaatkan waktu dengan baik. Aku mungkin saja bisa sembuh, tapi aku tak mau membuat keluargaku sengsara dengan biaya yang begitu mahal.”
Kau tahu Kay, aku begitu marah. Marah pada diriku sendiri. Mengapa aku begitu bodoh. Seharusnya aku tahu ini sejak awal. Seharusnya aku mencurigai obat penahan rasa sakit yang kau bawa kemanapun itu. Seharusnya aku bertanya-tanya mengapa kau sering terjatuh tiba-tiba. Seharusnya, mengapa tak seharusnya.
“Aku baik-baik saja ka, percayalah. Sakit ini tak membuat sedikitpun semangatku pudar. Aku akan tetap berjalan, aku harus mengejar mimpiku meski waktu telah menantiku. Percayalah bahwa aku sangat bahagia dengan ini.”
Kay kau tahu bahwa aku begitu naif, aku tidak pernah menangis karna aku pikir aku adalah orang yang kuat. Tapi Kay, kau membuatku menangis kini. Maafkan aku Kay. Ku mohon bagilah lara itu, agar aku dapat menebus kesalahanku yang lalu.
“Kay, mengapa kau simpan semua itu sendiri? Mengapa kau membiarkanku menebak-nebak tak pasti? Percayalah padaku Kay, kumohon.”
Kay hanya tersenyum, tapi binar matanya tak juga hilang. Mata tak mungkin berbohong Kay, meski ku tahu kau lebih banyak berbohong ketimbang jujur. Kau bohong bahkan pada dirimu sendiri. Mengapa kau selalu ingin terlihat baik-baik saja di mata orang lain? Berhentilah Kay, sandarkan pundakmu dan menangislah semaumu.
“Kaka, aku ingin meminta sesuatu bolehkah? Tapi permintaan ini harus dikabulkan.”
“Tentu Kay, apa yang kau inginkan, berujarlah.”
“Aku ingin kau pergi ka, tinggalkan aku. Carilah sahabat lain yang lebih baik. Aku tahu kau layak mendapatkannya. Jangan kau sia-siakan waktumu hanya untuk orang yang sakit jiwa sepertiku. Kau berhak mengejar mimpimu. Kau berhak bahagia. Aku tak mau lagi membebanimu.”
Waktu seakan terhenti. Sungguh, aku bahagia melihatmu dapat belajar mengungkapkan perasaanmu, aku bahagia karna kau berbicara lebih banyak kini. Tapi jiwaku begitu remuk, kata-kata dari mulutku terasa tertahan saat kau bilang agar aku pergi meninggalkanmu.
“Ka...y, katakanlah bahwa kau tak bersungguh-sungguh mengatakan itu! Katakanlah bahwa kau ingin agar aku tetap berada disini. Apa orang yang sakit jiwa tidak berhak punya sahabat Kay? Mengapa kau begitu jahat pada dirimu sendiri? Jika kau merasa bahwa selama ini aku terbebani, itu SALAH Kay. Aku bahagia menjadi sahabatmu.”
Aku mungkin hanyalah seorang sahabat yang tercipta dipikirannya. Kay mungkin bisa menghilangkanku kapan saja sesuai kehendaknya. Tapi aku tak mau meninggalkannya dengan kondisi seperti ini. Duhai Allah, adakah tempat bagi seorang autis seperti temanku di dunia ini.
“Terimakasih ka, aku sangat bersyukur punya sahabat sepertimu. Tapi aku harus pergi, aku tak bisa membohongi kata hatiku. Aku ingin pulang. Kumohon berlapanglah, karena aku tahu kau akan mengerti meski tak ku jelaskan.”
Kumohon jangan berkata seperti itu, tetaplah tinggal disini. Aku tetap sahabatmu bukan? Kemanapun kau akan pergi. Aku berjanji akan berlapang dada, karena aku yakin kelak akan menemuimu kembali, bahkan dalam atmosfir yang lebih baik. 
Kay, semoga kau dan dia bahagia meski ditempat berbeda, menapaki rumusan massa baru dengan rasa sakit sebagai pemanisnya. Meski aku tak tahu dia siapa.
Kay, inikah jelaga tiga sangkakala, yang membuatku dan dirimu tahu rasa manis dari cinta Tuhan?

(Fiksi) Lanjutan
Jum'at 24  Februari 2012, 12:33

Vissiana Rizky Sutarmin

Jumat, 06 Januari 2012

Jelaga Tiga Sangkakala..



Jelaga tiga sangkakala, membuatku tahu rasa manis dari cinta Tuhanku

Ini kisah tentang seonggok insan yang memulai karir pendidikan ala Indonesia-nya sejak usia 4 tahun. Taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, terus sampai kini menghuni sasana Perguruan Tinggi. Bila dihitung-hitung usianya kini sembilan belas tahun jalan. Tak ada yang istimewa dari manusia yang satu ini. Satu-satunya kelebihan manusia ini hanyalah "kekurangannya" yang berlebih. "Kekurangan" versi batangan-batangan insan di seantero dunianya. Mereka berbisik, berkata, membentak sampai berteriak "Kamu AUTIS!, Kamu ANEH!, Kamu SULIT DITEBAK!, Kamu CEROBOH saat berkendara! Kamu BERBEDA!, Kamu BERKEBUTUHAN KHUSUS!, Kamu "SAKIT", Kamu jarang bicara! Senang DIAM! Marah DIAM! Kesal DIAM! Bahagia DIAM! Sakitpun DIAM!"

Entahlah, Sang Introvert telah menjadi sahabat manusia yang satu ini sejak kecil. Entah secara nominal itu di idap sejak umur berapa banyak. Tapi "Sang" yang satu ini telah menjadi sahabatnya hingga kini. Biarlah, sebagai apologi sikap DIAM sesuai dengan ajaran yang dimaktub hadits. Meski akan banyak yang protes dan mulai berceramah saling sebrang tafsir.

Ngomong-ngomong kita sebut saja manusia yang satu ini dengan panggilan Kay. Ini kisah tentang Kay, yang coba diberi judul "Jelaga Tiga Sangkakala". Meski rasanya isi kisah akan punya hubungan kurang baik dengan judul. Tapi biarlah, kita lanjutkan. Toh kisah ini tidak akan berlama-lama. Singkat saja.

Sejauh pengamatanku soal Kay, dia memang begitu. Pertama kali bertemu, banyak rasa campur aduk. Mulai dari heran, aneh, unik dll. Aku mulai berfikir bahwa sosok yang satu ini begitu berbeda. Cocok untuk jadi kelinci percobaan, hmm maksudku objek pengamatan. Tapi semakin aku coba mendekat, aku semakin sulit mengenalnya. Kay justru menjelma menjadi orang asing. Dia tersesat, dia mengubur gunung berapi dalam jiwanya. Oh Tuhan, bagaimana jika gunung itu meletus saat aku mulai menjarah dunianya. Setidaknya itu yang aku baca dibuku,  cepat atau lambat gunung tersebut akan meletus. Kalaupun tidak, maka pengubur gunung merapi tersebut yang akan mati!

Jelaga tiga sangkakala. Semua kata mengalir begitu saja, semua hanya praduga. Tak pernah keluar dari mulutnya. Kesal aku! Kenapa dia selalu memendam? Mau sampai kapan? Kay, sampai kapan kau tak mempercayai manusia? Ini semua pasti karena penghianatan, penderitaan, kesendirian. Ya, ini pasti karena itu semua. Kurang ajar mereka semua. Ini sungguh sadis. Pembunuhan karakter! List orang-orang tak bertanggung jawab itu sudah ada di tanganku Kay. Akan aku balas, meski aku tak tahu harus dengan cara apa.

Tubuhku jadi beku, saat kau tunjukan isyarat bahwa kau sudah melupakan semua, kau memaafkan mereka dan memutuskan untuk pergi perlahan. Kau tak pernah bicara Kay! Kau biarkan aku terseok-seok menerjemahkan sorot matamu yang penuh binar. Sejauh ku tahu, kau lebih sering berbohong ketimbang jujur. Kau berbohong bahkan pada dirimu sendiri. Tapi kau tak bisa membohongiku Kay, kau tak bisa membohongi orang yang sudah khatam buku-buku psikologi sepertiku.

Jelaga tiga sangkakala. Aku tahu, kau mulai tak suka dunia ini. Sakitmu mulai kumat ketika kau sadar telah tertipu dunia. Ah, dalamnya pikiranmu. "Ini 2012 Kay bukan zaman nabi! Tapi kau malah menatapku tajam. " Istirahatkan otakmu!" Kau berfikir keras sejak kau kecil, kini kau rapuh.

Aku mulai merenungkan obrolan kita tadi siang. Kita berbincang soal dunia. Kau ada benarnya, dunia ini panas Kay. Bagaikan berada diruang bertembok duri. Maju, mundur, kekiri ataupun kekanan, kita tetap akan berdarah. Aku ingat, kau bilang begini "Kawan, ku pikir orang yang memaknai hakikat dunia lebih dalam, tak akan punya keinginan hidup lebih lama. Kau tahu, tembok itu berduri dan aku lebih memilih naik keatas."

"Maksudmu?" Aku heran dan butuh penjelasan, sekarang!

Kay, alih-alih kau bertanggung jawab atas perkataanmu, kau malah pergi dengan alasan kau sedang sangat ingin coklat saat ini. Tapi ya sudah, kau tak pernah banyak bicara. Aku sudah terbiasa bekerja lembur untuk memecahkan teka-teki buatanmu ini. Meski kesimpulanku mungkin tak seperti isi hatimu.

Menarik Kay, ingin aku akhiri susun kata ini dengan mengenang diskusi kita akhir tahun lalu. Kita berbincang tentang harapan. Aku ingin sekali tahun 2012 ini bisa lebih baik, aku juga ingin bisa lulus tahun ini dan menjadi wartawan. "Bagaimana dengan kau Kay?" Aku tak sabar ingin dengar celotehannya, meski sedikit.

"Menapak rumusan massa baru, aku harap semoga tak lagi ada sangkakala berjelaga pada gugusan mangsa dua kosong satu dua. Berlindung pada Allah dari su'ul khotimah." ujar Kay. Hanya itu.

Baiklah Kay, aku siap bergadang lagi malam ini. Tak mungkin aku bisa tidur. Ah, jelaga tiga sangkakala. Membuatku tahu rasa manis dari cinta Tuhanku.

(Fiksi) Teka-teki korelasi
Jum'at, 6 Januari 2012, 23:20

Vissiana Rizky Sutarmin

Kamis, 05 Januari 2012

Menyoal Penegakkan Hukum di Indonesia




Gerah juga mengikuti kabar-kabar yang merebak akhir-akhir ini. Namun, suka tidak suka informasi terkini haruslah senantiasa diperbaharui. Meski sudah "jembar" mengingat apa yang di publish media hanya berkutat pada kisah-kisah buruk nan tragis yang menyisakan oleh-oleh sesak, kesal dan marah yang tak dapat disalurkan.

Coba perhatikan konten media akhir-akhir ini. Kasus Freeport, kasus Mesuji, kasus Bima, kasus pencurian sandal jepit milik anggota polisi oleh Aal bocah 15 tahun, dll. Ah, jika saja saya seorang polisi, saya bingung harus harus melakukan apa untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang perlahan memudar. 

Terlalu dini rasanya saya menyoal penegakkan hukum di Indonesia mengingat ada yang jauh lebih kompeten dibanding saya, seperti bapak dan ibu pengacara, aktivis HAM, mahasiswa hukum atau para penegak hukum itu sendiri. Namun, semoga dengan menulis saya bisa sedikit menumpahkan unek-unek saya yang kian mengendap akibat mengkonsumsi berita-berita ala media di Indonesia.

Saat ini semua mata rasanya tertuju pada penegak hukum kebanggaan kita. Ya, polisi. Banyak yang marah, kecewa, mengecam, bahkan sampai menghujat polisi karna kinerjanya kini kian tak sejalan dengan slogan-nya,  "Melindungi, Mengayomi dan Melayani Masyarakat". Kasus-kasus diatas adalah contoh kecil dari betapa lucunya penegakaan hukum di Indonesia.

Saya sebagai manusia yang "gagap" dan "bodoh" hukum sungguh sangat kecewa. Hukum makin tebang pilih dan pastinya dapat dibeli dengan mudah oleh uang. Aal, bocah 15 tahun yang mencuri sandal jepit saja harus mengalami tekanan psikis yang amat luar biasa karna harus menjalani persidangan hingga kini. Belum lagi sebelumnya ia mendapat penyiksaan secara fisik karna dipaksa mengaku. Pula kasus penyuapan polisi oleh perusahaan-perusahaan atau orang-orang besar untuk kemudian menindas orang-orang kecil yang terpinggirkan. Sungguh ironi mengingat begitu banyak nyawa-nyawa melayang demi membela sesuatu yang menjadi haknya, seperti pada kasus Mesuji, Bima dan Freeport.

Efek sampingnya ternyata tidak berhenti sampai disitu. Mau tidak mau noktah yang mencoreng penegakkan hukum di Indonesia kini merupakan embrional runtuhnya kestabilan dan kepercayaan hukum kelak. Coba bayangkan, jika sekarang saja banyak masyarakat yang tidak lagi mau menaruh rasa percaya pada hukum di Indonesia, apa jadinya negara ini beberapa tahun kedepan? kedamaian mungkin hanya akan menjadi kata kenangan yang diabadikan dalam kamus bahasa Indonesia. Naudzubillah.

Namun, hal tersebut tentu dapat dicegah. Kita sebagai masyarakat haruslah cerdas dalam mencerna berbagai berita yang ditayangkan media, dengan tidak mengeneralisasi hanya pada satu kasus saja. Kita pun hendaknya tidak lekas menjustifikasi sebelum mengkaji dan menganalisis lebih bijak. Saya yakin, dibelahan bumi Indonesia masih ada para penegak hukum yang jujur, adil dan amanah. Mereka senantiasa memperjuangkan hak masyarakat yang terdzolimi meski disisi lain harus juga berjuang mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Kitapun tentu harus mengapresiasi intikad mulia para penegak hukum termasuk kepolisian yang akan melakukan reformasi internal demi memperbaiki kualitas dan kinerja yang diharapkan dapat memulihkan kepercayaan masyarakat. Semoga kedepan, hukum di Indonesia dapat berjalan ke arah yang lebih baik dan para penegaknya pun diberi kekuatan serta kesabaran memperbaiki semua cela. Namun bukan dengan mencari kambing hitam, melainkan dengan menunjukan prestasi dan membuktikan realisasi slogannya selama ini. Semoga kita pun sebagai masyarakat dapat bersikap kian bijak dalam menyikapi tekanan-tekanan turbulensi yang melanda negeri ini serta tidak mudah terprovokasi pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. 

Tetap semangat membangun negeri. Hidup hukum yang adil! Hidup polisi! Hidup Indonesia!

Lihatlah lebih dekat, maka engkau akan bijaksana!




Refleksi sebuah status di facebook
05 Januari 2012, 13: 06

Vissiana Rizky Sutarmin

Senin, 02 Januari 2012

Belajar Mencinta




Kawan, aku sedang belajar mencintai-Nya dengan tulus
Tak ku hiraukan sungai-sungai damai dan permadani-permadani hijau riang
Tak ku idahkan jilatan merah menyala dan raksasa-raksasa murka menyiksa
Inikah cinta?

Kawan, aku sedang belajar mencintai-Nya dengan tulus
Ku lupakan semua mangsa, biar berlalu
Meski meninggalkan noktah hitam membeku, mengganggu!
Ku kubur peluh darah, ku kumpulkan dalam kotak amnesia
Biar kelak jadi hadiah indah manis pekat
Inikah ketulusan?

Kawan, aku sedang belajar mencintai-Nya dengan tulus
Sungguh, aku ingin enyah dari ini semua
Lelah, aku mulai ingin berjalan seimbang
Menikmati awan dan barisan cemara nan ramah
Biar tak ada lagi sebab
Biar tak ada lagi ceramah
Biar tak ada lagi tuduhan tersangka

Kawan, kuharap ini cinta
Ku harap ini ketulusan..

Tuhan, semua ku lakukan karena cinta
Cinta satu sebab
Cinta karna cinta..

Addhoif
Vissiana Rizky Sutarmin

02 Januari 2012, 14:36